GELORA.ME - Sikap Partai Golkar yang belum memperjelas dukungan untuk Pilpres 2029 dinilai sebagai langkah politik yang disengaja. Menurut analisis para pengamat, strategi ini diambil untuk menjaga posisi partai di lingkaran kekuasaan saat ini sekaligus mempertahankan fleksibilitas menghadapi dinamika politik empat tahun mendatang. Pernyataan Ketua Umum Golkar, Bahlil Lahadalia, yang berulang kali menegaskan komitmen mengawal pemerintahan Prabowo-Gibran hingga akhir masa jabatan, dipandang sebagai bagian dari manuver untuk mencari posisi paling aman.
Strategi Menjaga Akses dan Kepercayaan
Dalam pandangan pengamat politik dari Citra Institute, Efriza, sikap hati-hati Bahlil dan Golkar ini merupakan bentuk kalkulasi politik yang realistis. Posisi Golkar, yang baru saja melalui ujian internal dengan meredanya isu munaslub, dinilai sedang menguat. Dalam situasi seperti ini, menjaga akses ke pusat kekuasaan menjadi prioritas.
Efriza menjelaskan, "Bahlil lebih memilih menjaga akses ke lingkaran kekuasaan yang dipimpin Prabowo. Apalagi, posisi Golkar saat ini sedang menguat setelah isu munaslub terhadap Bahlil berhasil dipadamkan."
Retorika Dukungan dan Fleksibilitas Politik
Lebih lanjut, Efriza yang juga merupakan Magister Ilmu Politik Universitas Nasional (UNAS) itu melihat pernyataan Bahlil sebagai lebih dari sekadar janji dukungan. Pernyataan itu merupakan retorika yang berfungsi ganda: menegaskan sikap resmi partai sesuai keputusan Munas, sekaligus menjaga ruang gerak politik agar tetap adaptif terhadap perubahan situasi di masa depan.
"Pernyataan Bahlil merupakan bentuk retorika dukungan sekaligus pengulangan sikap resmi partai sebagaimana diputuskan dalam Munas," ungkapnya. "Ini dilakukan untuk menjaga fleksibilitas politik, baik bagi dirinya sebagai ketua umum maupun bagi Golkar agar tetap dinilai adaptif."
Menghindari Jebakan Loyalitas Dini
Strategi ini, menurut analisis Efriza, juga dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan hubungan politik yang rumit. Bahlil dinilai berusaha untuk tidak terjebak pada komitmen dini untuk Pilpres 2029 yang justru bisa menimbulkan persepsi negatif. Di balik sikapnya itu, tersirat keinginan untuk menjaga hubungan baik dengan pemerintahan Prabowo sekaligus dengan mantan Presiden Joko Widodo.
Efriza menutup analisisnya dengan menyatakan, "Bahlil tampak enggan terjebak pada sikap dukung-mendukung Pilpres yang masih jauh. Ia khawatir langkah tersebut justru memunculkan persepsi negatif, seolah lebih loyal kepada Jokowi dibandingkan Prabowo."
Dengan demikian, sikap "main aman" yang ditunjukkan Golkar bukanlah sebuah kebimbangan, melainkan sebuah strategi penempatan diri yang dihitung matang dalam peta politik nasional yang terus bergerak.
Artikel Terkait
KPK Perluas Penyidikan Aset Ridwan Kamil hingga Luar Negeri Terkait Kasus Korupsi Bank bjb
Pengamat Nilai Wacana Dua Periode Prabowo Masih Cek Ombak
Analis: Perebutan Kursi Cawapres Jadi Fokus Dinamika Politik Menuju Pilpres 2029
Siswa SD di Ngada Diduga Bunuh Diri Akibat Tak Mampu Beli Alat Tulis