GELORA.ME - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dinilai akan menghadapi tantangan berat untuk berkembang menjadi partai besar jika hanya mengandalkan figur Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi). Analisis ini disampaikan oleh pengamat politik Saiful Huda Ems, menyusul pidato Jokowi dalam Rakernas PSI di Makassar akhir Januari lalu. Pandangan tersebut menyoroti latar belakang non-politik Jokowi dan kurangnya pengalaman keluarga serta kader partai dalam mengelola organisasi politik, yang berpotensi membatasi masa depan partai tersebut.
Analisis Latar Belakang dan Ketergantungan Figur
Dalam pandangannya, Saiful Huda menggarisbawahi bahwa Jokowi pada dasarnya bukan berasal dari kalangan politisi karier. Figur yang diusung Megawati Soekarnoputri ini justru berawal dari profesi di luar dunia politik sebelum kemudian merintis karier dari Walikota Solo, Gubernur DKI Jakarta, hingga menjadi Presiden.
Namun, menurut analis itu, jejak itu tidak serta-merta menjadi modal untuk membangun sebuah partai dari nol. Terlebih, dinamika internal partai membutuhkan keahlian tersendiri yang berbeda dengan menjalankan pemerintahan.
Kekurangan Pengalaman Managemen Partai
Persoalan mendasar lainnya, menurut Saiful, terletak pada kurangnya pengalaman dalam mengelola partai, baik dari Jokowi sendiri maupun dari keluarga dan kader terdekatnya yang kini memegang peran kunci. Ia mencontohkan proses kaderisasi yang dinilai terburu-buru.
Saiful mengungkapkan skeptisismenya terhadap hal itu. "Kaesang Pangarep sendiri baru dua hari jadi kader PSI langsung diangkat jadi ketum PSI. Jadi bagaimana mungkin orang yang sama sekali tidak memiliki pengalaman memimpin dan mengelola partai politik, akan diandalkan untuk membesarkan PSI?" tuturnya.
Perubahan Peta Kekuasaan Pasca-Kepresidenan
Analisis ini juga mempertimbangkan konteks kekuasaan yang telah bergeser. Jokowi kini tidak lagi menduduki posisi presiden, yang berarti pengaruh dan aksesnya terhadap instrumen negara sudah sangat berbeda. Dalam kondisi saat ini, kapasitasnya untuk secara langsung membesarkan partai dinilai terbatas.
Saiful menambahkan, "Jokowi sekarang, selain tidak memiliki kekuasaan, juga disibukkan dengan pengobatan demi pengobatan kurapnya yang sudah mengkeriputkan kulit dan melongsorkan rambutnya."
Prospek dan Peringatan untuk Masa Depan PSI
Dengan mempertimbangkan seluruh faktor tersebut, Saiful memprediksi bahwa PSI justru berpeluang untuk semakin menciut dibandingkan performa pada dua pemilu sebelumnya. Ia memberikan peringatan keras mengenai masa depan partai tersebut jika tidak ada perubahan pendekatan.
"Lebih baik PSI dan Jokowi segera insyaf," pungkasnya menutup pernyataan.
Artikel Terkait
Buni Yani Ragukan Komitmen KPK Jika Belum Sentuh Kasus Jokowi dan Keluarga
Elektabilitas Tinggi Beri Prabowo Kebebasan Pilih Pendamping di Pilpres 2029
Gerindra Serukan Dua Periode Prabowo, Tanpa Sertakan Nama Gibran
Analis Prediksi Perebutan Kursi Cawapres Prabowo Sudah Dimulai