PM Jepang Sanae Takaichi Bubarkan Parlemen, Tetapkan Pemilu Dadakan 8 Februari 2026

- Sabtu, 07 Februari 2026 | 20:00 WIB
PM Jepang Sanae Takaichi Bubarkan Parlemen, Tetapkan Pemilu Dadakan 8 Februari 2026

GELORA.ME - Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi membubarkan parlemen dan menetapkan pemilihan umum nasional pada 8 Februari 2026, sebuah langkah mendadak yang mengagetkan banyak kalangan. Keputusan ini diambil di tengah peralihan koalisi pemerintah dan bertujuan untuk meminta mandat langsung dari rakyat, meski berisiko terhadap posisi Takaichi sendiri.

Pertaruhan Politik di Tengah Perubahan Koalisi

Langkah Takaichi menggelar pemilu dadakan ini terjadi pada periode yang dinamis. Baru menjabat sejak Oktober tahun lalu, ia memimpin Partai Demokrat Liberal (LDP) yang baru saja kehilangan mitra koalisi lamanya, Komeito. Pemerintah kemudian membentuk aliansi baru dengan Japan Innovation Party (Ishin), yang hanya memberikan keunggulan mayoritas satu kursi di majelis rendah, ditambah dukungan beberapa anggota independen. Dalam situasi yang rapuh ini, Takaichi memilih untuk tidak menunggu pengesahan anggaran tahunan dan langsung mengambil inisiatif.

Dalam konferensi pers yang penuh perhitungan, Takaichi mengakui besarnya risiko yang ia ambil. "Saya mempertaruhkan masa depan saya sebagai perdana menteri," tegasnya.

Ia kemudian menjelaskan alasan mendasar di balik keputusan tersebut. "Saya ingin rakyat memutuskan secara langsung apakah mereka dapat mempercayakan pengelolaan negara kepada saya," tutur Takaichi.

Strategi Memanfaatkan Popularitas dan Proyeksi Kemenangan

Para pengamat politik melihat langkah ini sebagai strategi yang cerdik. Popularitas Takaichi, perdana menteri perempuan pertama Jepang, tetap tinggi dengan tingkat persetujuan publik konsisten di atas 70 persen. Terlebih, ia berhasil meraih dukungan luar biasa dari pemilih muda, di mana lebih dari 90 persen pemilih berusia 18-29 tahun mendukungnya dalam berbagai jajak pendapat. Pemilu dadakan dinilai sebagai momentum untuk mengonversi popularitas pribadi itu menjadi kekuatan politik yang lebih solid bagi LDP dan koalisi barunya.

Proyeksi pun tampak mendukung strategi tersebut. Jajak pendapat terbaru dari The Asahi Shimbun menunjukkan LDP berpeluang meraih lebih dari 233 kursi yang dibutuhkan untuk mayoritas mandiri, meningkat dari posisi saat ini yang hanya 198 kursi. Secara keseluruhan, blok partai berkuasa diprediksi dapat meraih lebih dari 300 kursi di parlemen.

Tantangan dan Harapan di Balik Keputusan Berisiko

Meski demikian, langkah berani Takaichi tidak lepas dari tantangan. Gejolak ekonomi, yang ditandai dengan melemahnya nilai tukar yen mendekati titik terendah dua pekan sebelum pemilu, berpotensi menjadi faktor penentu yang memengaruhi sentimen pemilih di bilik suara.

Di sisi lain, keputusan ini juga dipandang sebagai upaya untuk keluar dari ketergantungan. Pasca hasil buruk pemilu 2024 di era kepemimpinan Shigeru Ishiba, LDP terpaksa sangat bergantung pada Ishin. Dengan mengamankan mayoritas yang lebih jelas, Takaichi berharap dapat memperkokoh posisi pemerintahannya dan mengonsolidasikan kekuasaan koalisi LDP-Ishin untuk agenda politik ke depan. Pemilu Februari nanti akan menjadi ujian nyata bagi kalkulasi politik sang perdana menteri.

Editor: Farah Ayu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar