GELORA.ME - Konten kreator dan pengusaha Raymond Chin membedah kasus Jeffrey Epstein, menekankan bahwa skandal ini jauh melampaui narasi kriminal biasa. Dalam analisisnya, Chin menyoroti bagaimana Epstein membangun sistem yang memanipulasi lingkaran kekuasaan global melalui kombinasi uang, akses eksklusif, dan dugaan pemerasan, dengan korban utama adalah anak di bawah umur. Pandangannya ini disampaikan melalui kanal YouTube-nya pada Sabtu, 7 Februari 2026, menanggapi dokumen pengadilan yang terus dibuka ke publik.
Sebuah Sistem Kejahatan, Bukan Sekedar Tindakan Individu
Raymond Chin dengan tegas menolak menyederhanakan kasus ini sebagai teori konspirasi. Ia menekankan bahwa ini adalah fakta hukum yang telah melalui proses pengadilan, meski publik baru melihat secuil dari keseluruhan dokumen. Menurutnya, yang mengerikan bukan hanya tindakan kriminal Epstein, tetapi infrastruktur yang memungkinkan seorang mantan narapidana bergaul dengan presiden, bangsawan, dan taipan teknologi.
“Jeffrey Epstein itu menjijikkan banget. Dia bukan level kriminal biasa. Dia monster yang membangun pulau untuk memperdagangkan anak di bawah umur demi melayani orang-orang paling berkuasa di bumi,” tutur Raymond.
Ia merasa ngeri melihat mekanisme yang memungkinkan Epstein diakui oleh sistem. Bagaimana bank-bank ternama disebut melanggar aturan untuknya, dan bagaimana ia mendapatkan akses finansial yang luar biasa dari miliarder Leslie Wexner. “Dia bukan kaya karena bisnis. Dia punya akses ke duit karena dikasih akses. Dari situ semua pintu kebuka,” lanjutnya.
Strategi Legitimasi: Topeng Filantropi dan Sains
Chin mengamati bahwa Epstein dengan cerdik menggunakan filantropi, khususnya di bidang sains, sebagai alat rebranding. Donasi besar-besaran ke institusi bergengsi seperti Harvard dan MIT memberinya pintu masuk ke lingkaran elite intelektual dunia. Hal ini, menurutnya, berfungsi sebagai “pencucian reputasi” yang efektif, memberikan kedok terhormat sementara operasi gelapnya terus berjalan.
“Dia rebranding jadi science philanthropist. Nyumbang ke Harvard, MIT, dan danai riset-riset aneh. Itu pintu belakang buat masuk ke Bill Gates, Stephen Hawking, dan elite lainnya,” ungkapnya.
Modus Operasi: Jebakan dan Pemerasan Sistematis
Bagian paling sistemik dari operasi Epstein, menurut analisis Chin, adalah dugaan kuat tentang “honey trap” atau jebakan. Investigasi FBI menemukan kamera tersembunyi di berbagai propertinya, yang diduga digunakan untuk merekam aktivitas tamu-tamu VIP-nya.
“Dia ngumpulin kompromat. Ribuan jam rekaman elite dunia lagi ngelakuin kejahatan. Itu kartu as-nya,” ujar Raymond. Dengan materi pemerasan seperti itu, Epstein disebut-sebut mampu melumpuhkan sistem hukum yang seharusnya mengadilinya, dengan menyandera moralitas para tokoh berpengaruh.
Keterkaitan Global dan Peringatan untuk Indonesia
Raymond Chin juga menyentuh kemunculan nama-nama dari Indonesia dalam dokumen yang beredar. Ia mengingatkan agar publik bersikap hati-hati dan tidak langsung menarik kesimpulan tanpa bukti yang lengkap.
“Ini bukan hubungan langsung ya. Tapi unik aja kenapa nama elite politik Indonesia bisa muncul. Kalian bisa baca sendiri,” katanya, memberikan disclaimer agar tidak terjadi kesimpulan yang prematur.
Kematian Bukan Akhir, dan Pertanyaan yang Masih Menggantung
Menutup analisisnya, Chin berpendapat bahwa kematian Epstein di sel tahanan pada Agustus 2019—yang secara resmi disebut bunuh diri di tengah kegagalan CCTV—bukanlah akhir dari cerita. Bagi dia, Epstein hanyalah gejala dari penyakit yang lebih besar.
“Epstein itu gejala, bukan penyakitnya. Penyakitnya sistem di mana uang dan kekuasaan bisa membengkokkan hukum,” tegasnya.
Ia mempertanyakan apakah jaringan serupa masih aktif beroperasi di berbagai belahan dunia, termasuk kemungkinan di Indonesia. Dengan nada reflektif, Raymond menyampaikan keyakinannya, “Menurut gua, pasti ada. Tinggal ketahuan atau belum.”
Kasus Jeffrey Epstein, sang predator sistemik, pada akhirnya meninggalkan bayangan panjang tentang sisi kelam kekuasaan global, di mana eksploitasi terhadap yang lemah menjadi alat untuk mengendalikan yang kuat.
Artikel Terkait
Persebaya Kukuhkan Posisi Papan Atas Usai Tundukkan Bali United 3-1
PBSI Selesaikan Seleknas 2026, Juara Belum Langsung Lolos ke Pelatnas
myBCA International Java Jazz Festival 2026 Pindah ke NICE PIK 2, Jon Batiste Jadi Headliner
Karhutla Masih Melanda Lima Wilayah di Riau, Status Darurat Belum Ditetapkan