GELORA.ME - Pasar saham Indonesia memulai pekan ini dengan sentimen hati-hati. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah tipis pada pembukaan perdagangan Senin, 9 Februari 2025, melanjutkan tekanan dari akhir pekan lalu. Pelemahan ini terjadi di tengah pergerakan beragam pasar global dan respons terhadap perkembangan rating kredit Indonesia.
Pergerakan Indeks dan Sektor Unggulan
Pada pembukaan sesi pertama, IHSG menyentuh level 7.928, terkoreksi 0,12 persen. Pelemahan serupa terlihat pada indeks LQ45 yang turun 0,20 persen ke level 813. Sementara itu, indeks saham syariah JII justru menunjukkan ketahanan dengan menguat 0,34 persen ke level 533.
Di antara saham-saham unggulan, tekanan jual terlihat pada beberapa emiten perbankan seperti BBCA, BBTN, BBNI, dan BMRI. Di sisi lain, saham-saham sektor komoditas seperti ANTM, MDKA, dan MBMA justru mencatatkan kenaikan, mencerminkan pergerakan harga komoditas global yang menguat.
Tekanan dari Dalam Negeri dan Pasar Obligasi
Sentimen domestik masih terpengaruh oleh performa buruk akhir pekan lalu, di mana IHSG anjlok 2,08 persen. Tekanan terberat saat itu datang dari sektor-sektor siklikal dan berbasis komoditas, seperti industri, energi, dan bahan baku, yang terkoreksi lebih dari 3 persen. Hanya sektor transportasi yang mampu bertahan dengan catatan positif.
Pasar obligasi juga menunjukkan dinamika tersendiri. Imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun bergerak naik ke 6,42 persen, mengikuti tren kenaikan yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) yang mencerminkan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter global.
Analisis Sentimen dan Pergerakan Rupiah
Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih, memaparkan faktor kunci di balik tekanan pada IHSG. Ia mengaitkannya dengan keputusan lembaga pemeringkat Moody's yang mempertahankan rating Indonesia di Baa2, namun mengubah outlook dari stabil menjadi negatif.
"Hal ini membuat kondisi IHSG menjadi yang terlemah di ASEAN -8,23% ytd (6/2/2026)," ungkapnya.
Di pasar valuta asing, Rupiah terus berada di bawah tekanan. Mata uang nasional melemah hingga mendekati level Rp16.877 per dolar AS di pasar spot, dengan kurs referensi JISDOR berada di Rp16.887. Pelemahan ini terjadi meskipun indeks dolar AS sendiri mengalami pelemahan, yang biasanya memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang.
Kondisi Pasar Global yang Tidak Seragam
Sementara pasar domestik tertekan, kondisi di luar negeri justru menunjukkan warna yang berbeda. Wall Street merayakan reli tajam dengan indeks Dow Jones menembus level psikologis 50.000 untuk pertama kalinya, didorong oleh pemulihan saham teknologi dan aset kripto. Indeks volatilitas (VIX) pun mereda secara signifikan.
Pasar Eropa juga bergerak positif, meski dengan kenaikan yang lebih moderat. Namun, sentimen optimisme dari Barat itu tidak sepenuhnya menular ke kawasan Asia. Bursa di Hong Kong dan Shanghai masih tercatat melemah, menciptakan suasana yang tidak seragam dan menambah kompleksitas bagi investor domestik.
Kenaikan Harga Komoditas
Pasar komoditas menjadi sorotan dengan kenaikan harga yang cukup tajam. Emas spot melonjak lebih dari 4 persen, mendekati level US$4.964 per troy ounce, sebagai respons terhadap meningkatnya permintaan aset safe-haven. Minyak mentah jenis WTI dan Brent juga menguat, diikuti oleh kenaikan signifikan pada harga perak dan tembaga.
Secara keseluruhan, panorama pasar keuangan pagi ini menggambarkan ketegangan antara sinyal positif dari pasar global dan tantangan fundamental di dalam negeri. Investor tampaknya masih memilih untuk bersikap hati-hati, menunggu kejelasan lebih lanjut sebelum mengambil posisi yang lebih agresif, dengan mempertimbangkan dinamika yield, nilai tukar, dan sentimen risiko yang masih rapuh.
Artikel Terkait
Nova Arianto Hadapi Ujian Berat di Laga Perdana sebagai Pelatih Sementara Timnas U-17
Jaecoo Libatkan Konsumen Rancang Personalisasi J5 EV di IIMS 2026
HPN 2026 Serukan Pers Sehat untuk Dukung Ekonomi Berdaulat dan Bangsa Kuat
Harga Emas Antam Naik Rp20.000, Buyback Melonjak Lebih Tajam