Airlangga Tegaskan Reformasi Struktural Kunci Pertumbuhan Inklusif di Forum APEC

- Minggu, 08 Februari 2026 | 12:30 WIB
Airlangga Tegaskan Reformasi Struktural Kunci Pertumbuhan Inklusif di Forum APEC

GELORA.ME - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, reformasi struktural dan integrasi ekonomi kawasan merupakan kunci untuk mendorong pertumbuhan yang inklusif di kawasan Asia-Pasifik. Pernyataan ini disampaikannya dalam pembukaan APEC Business Advisory Council (ABAC) Meeting I 2026 di Jakarta, Minggu (8/2), yang menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha dalam menghadapi dinamika global yang kompleks.

Kebijakan Kuat Jadi Fondasi Ketahanan Ekonomi

Dalam pidatonya, Airlangga Hartarto menyoroti bahwa ketahanan ekonomi Indonesia bukanlah suatu kebetulan. Ia menegaskan, fondasi tersebut dibangun dari serangkaian kebijakan yang kuat, kredibel, dan konsisten. Pendekatan ini dinilai telah membuahkan hasil nyata, dengan ekonomi nasional tumbuh 5,11 persen sepanjang tahun 2025. Bahkan, pada kuartal IV-2025, pertumbuhan mencapai 5,39 persen secara tahunan, menempatkan Indonesia di antara negara dengan kinerja terbaik di kawasan APEC.

“Indonesia tetap resilien, bukan karena kebetulan, tetapi karena kebijakan yang kuat dan kredibel yang terus dijalankan untuk memastikan pertumbuhan yang inklusif dan selaras dengan agenda reformasi,” tegas Airlangga.

Dampak Nyata pada Kesejahteraan Masyarakat

Lebih dari sekadar angka makro, pertumbuhan ekonomi tersebut juga berhasil diterjemahkan ke dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat. Menko Airlangga memaparkan sejumlah indikator yang menunjukkan tren positif. Tingkat kemiskinan berhasil ditekan hingga 8,5 persen, sementara angka pengangguran turun ke level 4,9 persen. Selain itu, rasio ketimpangan (Gini Ratio) membaik dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mengalami peningkatan. Capaian ini, menurutnya, merupakan buah dari bauran kebijakan yang terkoordinasi, sinergi lintas sektor, serta komunikasi yang konsisten kepada publik.

Fokus Agenda Reformasi APEC 2026-2030

Memandang ke depan, kerja sama regional melalui APEC akan difokuskan pada Agenda Reformasi Struktural 2026–2030. Agenda ini dirancang untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih kompetitif dan tangguh. Beberapa prioritas utamanya adalah meningkatkan persaingan usaha yang sehat, memperbaiki iklim investasi, serta mendorong percepatan inovasi dan digitalisasi, termasuk pemberdayaan pelaku usaha mikro dan kecil.

“Kita berkumpul pada momen yang sangat penting, ketika lanskap ekonomi global menuntut lebih dari sekadar pemulihan, tetapi juga transformasi fundamental. Saat kita fokus 'Mempercepat Pertumbuhan Inklusif Regional Melalui Reformasi Struktural’, kita harus mengakui bahwa kekuatan kita terletak pada integrasi kita,” ujarnya saat menyampaikan sambutan pembukaan.

Melalui reformasi yang terkoordinasi dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, agenda ini diharapkan mampu mendongkrak produktivitas dan kemakmuran bersama. Selain itu, komitmen terhadap sistem perdagangan multilateral yang terbuka di bawah WTO juga akan terus diperkuat.

Sinergi Pemerintah dan Dunia Usaha Jadi Kunci

Menutup pidatonya, Airlangga Hartarto kembali menekankan bahwa kolaborasi yang erat antara pemerintah dan kalangan bisnis adalah jalan utama untuk menavigasi tantangan ekonomi global yang semakin rumit. Ia mengajak semua pihak untuk mengubah gagasan yang dibahas dalam pertemuan tersebut menjadi rencana aksi yang konkret.

“Pertemuan hari ini menegaskan bahwa sinergi yang lebih erat antara Pemerintah dan kepemimpinan dunia usaha merupakan satu-satunya cara untuk menavigasi kompleksitas tantangan dekade ini, mari kita ambil ide-ide yang dibahas di sini, ubah menjadi cetak biru dan hasil yang dapat ditindaklanjuti dan bersama-sama kita dapat memastikan bahwa Asia-Pasifik tetap menjadi mesin utama pertumbuhan inklusif dan berkelanjutan di dunia,” pungkas Menko Airlangga.

Editor: Sara Kristina

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar