Prabowo Targetkan Makan Bergizi Gratis Capai 82,3 Juta Penerima Sebelum Akhir 2026

- Minggu, 08 Februari 2026 | 20:50 WIB
Prabowo Targetkan Makan Bergizi Gratis Capai 82,3 Juta Penerima Sebelum Akhir 2026

GELORA.ME - Presiden Prabowo Subianto menargetkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat menjangkau 82,3 juta penerima manfaat sebelum akhir 2026. Target ambisius ini disampaikan dalam pidatonya di acara Mujahadah Kubro 1 Abad NU, Minggu (8/2). Hingga saat ini, program yang digadang-gadang sebagai salah satu upaya penanganan kerawanan pangan terbesar di Indonesia itu telah menyentuh lebih dari 60 juta warga, mencakup anak-anak, ibu, dan lansia.

Target Jangka Panjang dan Capaian Sementara

Dalam paparannya, Presiden Prabowo menggarisbawahi bahwa capaian saat ini bukanlah titik akhir. Pemerintah bertekad untuk terus memperluas jangkauan program agar manfaatnya bisa dirasakan oleh seluruh kelompok masyarakat yang membutuhkan. Optimisme itu ia sampaikan dengan keyakinan yang kuat.

"Dan insyaallah sebelum akhir tahun 2026 ini, kita akan sampai 82,3 juta yang berhak," tegasnya.

Perkembangan Program dalam Sorotan

Perlu dicatat, perkembangan program ini memang menunjukkan grafik yang signifikan. Data di awal Januari 2025 mencatat penerima manfaat berjumlah 55 juta jiwa. Artinya, dalam kurun beberapa bulan terakhir, terjadi penambahan cakupan yang cukup besar, mendekati target jangka menengah yang dicanangkan.

Prabowo sendiri menyoroti kecepatan implementasi ini. Ia membandingkannya dengan pengalaman negara lain, menyebut bahwa Brasil membutuhkan waktu lebih dari satu dekade untuk mencapai cakupan yang lebih kecil.

"Dalam waktu kurang dari satu setengah tahun, kita sudah bisa memberi makan kepada 60 juta anak-anak, ibu-ibu, dan orang-orang tua," tambahnya, menegaskan tempo pelaksanaan yang dianggap luar biasa.

Asal Usul dan Landasan Kebijakan

Di balik angka-angka statistik, kebijakan ini berawal dari keprihatinan mendalam yang dilihat langsung di lapangan. Presiden bercerita, ia sering merasa trenyuh menyaksikan kondisi anak-anak di berbagai daerah, yang pertumbuhan fisiknya tidak sesuai usia akibat masalah gizi kronis. Pengalaman empiris inilah yang kemudian mendorongnya untuk merumuskan kebijakan yang lebih konkret.

Berangkat dari keprihatinan itu, dilakukanlah serangkaian kajian mendalam, termasuk mempelajari model serupa di sejumlah negara. India, dengan program jaminan pangan nasionalnya, menjadi salah satu rujukan penting. Hasil studi itu kemudian diadaptasi dengan konteks dan kemampuan fiskal Indonesia, melahirkan program MBG seperti yang berjalan sekarang.

"Saudara-saudara sekalian, kita sudah sampai hari ini memberi makan kepada 60 juta lebih penerima manfaat di seluruh Indonesia," ujarnya, menyampaikan capaian tersebut kepada publik.

Editor: Rian Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar