GELORA.ME - Dinamika politik jelang Pemilihan Presiden 2029 diprediksi akan lebih terkonsentrasi pada perebutan kursi calon wakil presiden yang akan mendampingi Presiden petahana, Prabowo Subianto. Analis menilai, belum ditetapkannya sosok cawapres secara dini merupakan strategi untuk menyikapi dinamika politik yang masih terus bergerak, sekaligus membuka ruang bagi sejumlah tokoh nasional untuk menunjukkan kapasitasnya.
Strategi Membuka Ruang Dinamika
Penundaan penetapan calon wakil presiden, termasuk nama Gibran Rakabuming Raka, bukanlah suatu kekosongan. Langkah ini justru dinilai sebagai bentuk kehati-hatian politik dari Prabowo Subianto dan Partai Gerindra. Mereka tampaknya memilih untuk mengamati perkembangan situasi dan mengevaluasi kekuatan politik yang ada sebelum mengambil keputusan final.
Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Iwan Setiawan, membenarkan analisis tersebut. Menurutnya, langkah ini adalah pertimbangan strategis.
"Terkait cawapres, kenapa tidak langsung ditetapkan, saya kira Prabowo dan Gerindra pasti mempertimbangkan dinamika politik yang masih terus bergerak," jelasnya.
Bursa Calon Wakil Presiden yang Terbuka Lebar
Kebijakan untuk tidak terburu-buru ini secara tidak langsung menciptakan sebuah 'arena' politik baru. Sejumlah nama tokoh nasional pun muncul dalam spekulasi publik, mulai dari Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Puan Maharani, Zulkifli Hasan, Bahlil Lahadalia, hingga Gibran Rakabuming Raka sendiri. Masing-masing diyakini memiliki basis dan kapabilitas yang akan diuji dalam perjalanan politik menuju 2029.
Iwan Setiawan menambahkan bahwa proses ini akan berlangsung dalam beberapa tahun ke depan sebelum akhirnya mengerucut.
"Awal 2028 saya kira akan mulai kelihatan dan mengerucut, termasuk siapa yang akan menjadi cawapres dan juga potensi penantang Prabowo kalaupun ada," tuturnya.
Prabowo sebagai Poros Utama
Prediksi ini muncul di atas fondasi elektabilitas Prabowo Subianto yang hingga kini tetap kokoh. Berbagai simulasi dan survei politik konsisten menempatkan elektabilitasnya di atas level 70 persen. Posisi kuat ini menjadikannya sebagai poros sentral dalam peta kontestasi politik nasional lima tahun mendatang.
Dukungan publik yang tinggi, yang didorong oleh tingkat kepuasan terhadap kinerja pemerintahan, semakin mempersempit ruang bagi munculnya penantang presiden yang benar-benar serius. Kondisi inilah yang kemudian menggeser fokus perbincangan politik. Pertanyaannya bukan lagi 'siapa presidennya', melainkan 'siapa yang akan mendampingi sang presiden'.
Dengan demikian, perjalanan politik menuju 2029 akan lebih banyak diwarnai oleh manuver dan konsolidasi di sekitar kursi wakil presiden, sementara posisi puncak tampaknya telah memiliki arah yang jelas.
Artikel Terkait
Pengamat Nilai Wacana Dua Periode Prabowo Masih Cek Ombak
Siswa SD di Ngada Diduga Bunuh Diri Akibat Tak Mampu Beli Alat Tulis
Buni Yani Ragukan Komitmen KPK Jika Belum Sentuh Kasus Jokowi dan Keluarga
Analis: PSI Hadapi Tantangan Berat Tanpa Fondasi Organisasi yang Kuat