GELORA.ME - Teori konspirasi yang menyatakan adanya kemiripan wajah antara terpidana kejahatan seks Jeffrey Epstein dan mantan Presiden AS Andrew Jackson kembali mencuat. Gelombang klaim ini muncul bersamaan dengan rilisnya dokumen terbaru kasus Epstein oleh Departemen Kehakiman AS. Klaim yang terutama beredar di media sosial ini menyandingkan potret Epstein dengan gambar Jackson pada uang kertas 20 dolar AS, lalu membumbuinya dengan narasi liar seputar kehidupan abadi dan perubahan identitas.
Asal-Usul Klaim di Media Sosial
Klaim tersebut berawal dari unggahan akun-akun media sosial yang tidak terverifikasi. Salah satu akun, misalnya, memposting gambar perbandingan sambil mengaitkannya dengan perubahan desain uang kertas dan spekulasi tentang perselingkuhan. Narasinya berkembang liar, menyimpang jauh dari fakta sejarah yang tercatat tentang Andrew Jackson, presiden ketujuh Amerika Serikat yang menjabat dari 1829 hingga 1837.
Akun lain bahkan menambahkan dimensi baru yang lebih fantastis. “MEREKA TIDAK PERNAH MATI. MEREKA HANYA MENGUBAH IDENTITAS! Lihatlah tanda-tandanya. Lihat garis-garisnya. Jeffrey Epstein vs. Andrew Jackson dengan tagihan $20—perbandingannya terlalu sempurna untuk menjadi sebuah kebetulan,” tulis salah satu pengguna, seperti dikutip dalam unggahan tersebut.
Beberapa komentar juga mengaitkan klaim ini dengan teori lama yang tidak berdasar bahwa Epstein memalsukan kematiannya. Padahal, menurut catatan resmi, pria itu meninggal karena bunuh diri di sel penjaranya pada Agustus 2019.
Analisis Klaim dan Konteks yang Hilang
Meski terdapat sedikit kemiripan garis wajah yang bisa dianggap subjektif, klaim ini tidak memiliki dasar faktual yang mendukung hubungan apa pun antara kedua tokoh tersebut. Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa perbandingan semacam ini bukanlah hal baru di dunia maya; tren serupa pernah membandingkan wajah Theodore Roosevelt dengan aktor Robin Williams.
Namun, narasi ini sering kali dibelokkan ke ranah konspirasi yang jauh dari logika. Seorang pengguna, misalnya, membagikan video perbandingan sambil menyelipkan teori tentang ‘malaikat yang jatuh’. Postingan lain bahkan menyebarkan teori tak berdasar bahwa Epstein adalah vampir, yang sama sekali tidak memiliki bukti ilmiah atau faktual.
Pentingnya Skeptisisme dan Verifikasi
Melihat maraknya informasi yang beredar, penting bagi publik untuk bersikap kritis. Klaim-klaim sensasional yang muncul dari akun anonim dan hanya menyebar di ruang gema media sosial harus ditanggapi dengan kehati-hatian. Para ahli sejarah dan forensik wajah akan menekankan bahwa kemiripan visual, apalagi antara potret modern dan lukisan atau ukiran abad ke-19, bukanlah bukti dari sebuah hubungan atau konspirasi.
Dalam menilai informasi, konteks dan sumber yang kredibel adalah kunci. Teori yang menggabungkan fakta sejarah yang terpisah dengan spekulasi liar, seperti yang terjadi pada kasus Epstein-Jackson ini, lebih mencerminkan dinamika penyebaran misinformasi di era digital daripada sebuah penemuan sejarah yang tersembunyi.
Artikel Terkait
Michael Carrick Akhiri Tugas Interim dengan Tiga Kemenangan Beruntun
MG S5 EV Resmi Diluncurkan di IIMS 2026, Harga Mulai Rp 357,9 Juta
Bhayangkara FC Resmi Rekrut Gelandang Jepang Sho Yamamoto
Tanah Bergerak di Tegal Rusak 464 Rumah, Ribuan Warga Mengungsi dan Akan Direlokasi