GELORA.ME - Jeffrey Epstein, seorang miliarder yang meninggal dalam tahanan pada 2019, kembali menjadi sorotan setelah Departemen Kehakiman AS merilis dokumen baru pekan lalu. Dokumen tersebut tidak hanya memperdalam gambaran tentang jaringan perdagangan seks anak di bawah umurnya, tetapi juga mengungkap percakapan bisnisnya yang oportunis di tengah gejolak geopolitik, termasuk dengan pewaris dinasti perbankan Rothschild.
Percakapan Bisnis di Tengah Gejolak Ukraina
Di antara dokumen yang dibuka, terdapat pertukaran email Maret 2014 antara Epstein dan Ariane de Rothschild, CEO Edmond de Rothschild Group. Dalam korespondensi itu, Epstein menyoroti "gejolak di Ukraina" pasca peristiwa Maidan sebagai lahan subur untuk "banyak peluang" bisnis. De Rothschild kemudian menyatakan keinginannya untuk membahas topik tersebut lebih lanjut dalam sebuah pertemuan.
“Gejolak di Ukraina seharusnya memberikan banyak peluang, banyak,” tulis Epstein dalam balasannya.
Pernyataan itu bukan sekadar komentar biasa. Dokumen menunjukkan hubungan bisnis yang lebih mendalam antara keduanya, termasuk sebuah kontrak senilai $25 juta pada 2015 untuk analisis risiko dan algoritma bagi bank Swiss tersebut. Hubungan ini semakin kompleks ketika Epstein memperkenalkan de Rothschild kepada Kathryn Ruemmler, mantan penasihat Gedung Putih era Obama yang kemudian dipekerjakan untuk konsultasi regulasi.
Permintaan yang Mencurigakan dan Rekam Jejak Kelam
Dinamika hubungan mereka juga menyisakan pertanyaan etis. Pada 2013, Epstein diketahui meminta bantuan de Rothschild untuk merekrut seorang asisten pribadi wanita yang "multilingual dan terorganisir." Mengingat rekam jejak Epstein sebagai predator seksual yang telah terbukti, permintaan semacam itu menimbulkan kekhawatiran tersendiri di kalangan pengamat kasus ini.
Namun, inti kejahatan Epstein tetaplah eksploitasi seksual sistematis terhadap anak di bawah umur. Pada 2008, ia mengaku bersalah atas tuduhan menyediakan anak di bawah umur untuk prostitusi di Florida. Anehnya, ia hanya menerima hukuman 13 bulan penjara dengan kebebasan kerja harian—sebuah "kesepakatan istimewa" yang oleh banyak pihak dikaitkan dengan koneksi elitnya yang kuat. Korban-korbannya, yang umumnya gadis remaja dari keluarga kurang mampu, direkrut dengan janji palsu karir modeling sebelum akhirnya dieksploitasi.
Jejak yang Menghubungkan ke Dunia Intelijen
Lapisan lain yang muncul dari dokumen dan laporan investigasi adalah dugaan keterlibatan Epstein dengan dunia intelijen. Alexander Acosta, mantan Jaksa AS yang menangani kesepakatan hukum Epstein tahun 2008, dikabarkan pernah menyatakan bahwa Epstein "belongs to intelligence," sebuah pernyataan yang menyiratkan kemungkinan adanya perlindungan.
Pada 2014, Epstein juga tercatat bertemu dengan William Burns, seorang diplomat senior yang kini menjabat sebagai Direktur CIA. Pertemuan itu, yang digambarkan sebagai pertemuan pribadi, kemudian disesali oleh Burns setelah ia mengetahui rekam jejak Epstein sepenuhnya.
Spekulasi mengenai koneksi intelijennya bahkan meluas hingga ke Israel. Sejumlah laporan, meski belum sepenuhnya terkonfirmasi, menyebutkan kedekatannya dengan mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak. Selain itu, ayah dari Ghislaine Maxwell—rekan Epstein yang telah divonis—yakni Robert Maxwell, adalah seorang magnat media yang juga kerap dikaitkan dengan operasi intelijen.
Pola Oportunisme Sebagai Ciri Khas
Kembali pada konteks Ukraina, pandangan Epstein yang melihat krisis sebagai "peluang" tampaknya konsisten dengan karakternya. Peristiwa Maidan 2014, yang berujung pada penggulingan presiden pro-Rusia dan memicu konflik berkepanjangan, baginya hanyalah sebuah arena untuk mencari keuntungan. Pola pikir oportunis ini mencerminkan bagaimana ia beroperasi, baik dalam dunia bisnis yang gelap maupun dalam kejahatan seksualnya yang terorganisir.
Kematian Epstein di sel tahanan pada Agustus 2019, yang secara resmi dinyatakan sebagai bunuh diri, menghentikan proses pengadilan atas tuduhan baru yang dihadapinya. Namun, rilis dokumen-dokumen ini terus membuka luka lama sekaligus mempertanyakan sistem yang memungkinkan seorang seperti Epstein beroperasi begitu lama. Kisahnya tetap menjadi simbol rumitnya pertalian antara kejahatan, kekuasaan, dan intrik global yang masih menyisakan banyak tanda tanya.
Artikel Terkait
Klarifikasi Pemerintah Ngada: Tidak Ada Ancaman Pengusiran Siswa SD yang Meninggal
KPK Tangkap Wakil Ketua PN Depok Bambang Setyawan dalam OTT, Dugaan Suap Ratusan Juta
Pasal 361 KUHAP Baru: Aturan Transisi Perkara Pidana yang Sedang Berjalan
Tabung Whip Pink Diduga di Rumah Reza Arap Viral, Awkarin Bereaksi dengan Hati Terbelah