BPS: Pengangguran Turun Jadi 7,35 Juta, Namun Kualitas Pekerjaan Masih Jadi Tantangan

- Senin, 09 Februari 2026 | 07:30 WIB
BPS: Pengangguran Turun Jadi 7,35 Juta, Namun Kualitas Pekerjaan Masih Jadi Tantangan

GELORA.ME - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan penurunan angka pengangguran terbuka di Indonesia menjadi 7,35 juta orang pada November 2025. Meski jumlah penduduk yang bekerja bertambah 1,37 juta orang, tantangan utama masih mengemuka: mayoritas pekerjaan baru tercipta di sektor informal dan produktivitas rendah, dengan upah rata-rata yang cenderung stagnan.

Angka Pengangguran Menyusut, Penyerapan Tenaga Kerja Meningkat

Data terbaru Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) BPS menunjukkan angkatan kerja Indonesia berjumlah 155,27 juta orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 147,91 juta orang telah bekerja. Capaian ini menandai penurunan sekitar 109 ribu orang penganggur dibandingkan periode Agustus 2025.

Pemulihan ekonomi, terutama di sektor yang terdampak pandemi, tampak berkontribusi pada tren ini. Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum, misalnya, menyerap tambahan 381 ribu tenaga kerja, sebuah indikasi kebangkitan pariwisata dan usaha kuliner.

Secara keseluruhan, tiga sektor masih menjadi penopang utama penyerapan tenaga kerja: pertanian, kehutanan, dan perikanan (27,99%), perdagangan besar dan eceran (18,67%), serta industri pengolahan (13,86%). Dominasi sektor pertanian, yang kerap dikaitkan dengan produktivitas dan upah yang relatif rendah, mengisyaratkan bahwa transformasi struktur ketenagakerjaan nasional masih berjalan bertahap.

Kualitas Pekerjaan dan Kesenjangan Upah Jadi Tantangan Serius

Di balik angka pengangguran yang menurun, kualitas pekerjaan yang tersedia masih menjadi perhatian. Sebanyak 57,70% dari total pekerja, atau setara dengan 85,35 juta orang, masih bergantung pada sektor informal. Kondisi ini membuat mereka rentan terhadap fluktuasi ekonomi dan minimnya perlindungan sosial.

Dari sisi jam kerja, 67,94% pekerja telah bekerja penuh waktu. Namun, angka pekerja paruh waktu (24,24%) dan setengah pengangguran (7,81%) tetap signifikan. Yang lebih mengkhawatirkan adalah stagnasi upah. Rata-rata upah bulanan nasional nyaris tidak bergerak di angka Rp3,33 juta, bahkan mengalami penurunan tipis 0,06% dari periode sebelumnya.

Kesenjangan upah berdasarkan gender dan sektor pekerjaan juga masih lebar. Pekerja laki-laki rata-rata menerima Rp3,61 juta per bulan, sementara pekerja perempuan hanya Rp2,82 juta. Sektor informasi dan komunikasi mencatat upah tertinggi (Rp5,17 juta), jauh di atas sektor penyerap tenaga kerja terbesar seperti pertanian (Rp2,47 juta) dan perdagangan (Rp2,89 juta).

Analisis: Ekspansi Lapangan Kerja Perlu Diiringi Peningkatan Produktivitas

Peneliti CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, memberikan perspektif mendalam terhadap data ini. Ia menilai penurunan pengangguran lebih banyak didorong oleh ekspansi lapangan kerja berproduktivitas rendah, bukan oleh peningkatan kualitas pekerjaan itu sendiri.

“Pemerintah perlu memastikan investasi diarahkan ke sektor padat karya, bukan hanya padat modal,” tegasnya.

Yusuf menekankan pentingnya penguatan sektor industri pengolahan dan manufaktur padat karya untuk menciptakan lapangan kerja yang lebih produktif dan berkelanjutan. Sektor jasa pariwisata, meski potensial, sebaiknya diposisikan sebagai pelengkap dalam strategi penciptaan lapangan kerja.

Ia juga mengingatkan agar perlambatan pertumbuhan upah tidak diabaikan, karena hal itu mencerminkan masih dominannya sektor-sektor dengan upah rendah. Ke depan, kebijakan ketenagakerjaan dinilai perlu lebih fokus pada penciptaan pekerjaan yang tidak hanya tersedia, tetapi juga formal, produktif, dan memberikan upah yang layak bagi kesejahteraan tenaga kerja nasional.

Editor: Nining Rohmah

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar