GELORA.ME - Partai Amanat Nasional (PAN) mengusulkan pasangan Prabowo Subianto dan Ketua Umumnya, Zulkifli Hasan, sebagai calon presiden dan wakil presiden untuk periode 2029-2034. Usulan ini muncul tak lama setelah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) juga menyatakan dukungan untuk dua periode kepemimpinan Prabowo, menandai dinamika awal koalisi pemerintah dalam memandang peta politik jangka panjang.
Dukungan PAN dan Persaingan dengan PKB
PAN dinilai tidak ingin ketinggalan dari PKB dalam menyatakan komitmen politik jangka panjang. Partai yang telah tiga kali pemilu mendampingi Prabowo ini bahkan telah lebih dulu, sejak tahun lalu, menyuarakan dukungan untuk dua periode kepresidenan Prabowo. Saat itu, langkah PAN sempat dianggap terburu-buru oleh PKB.
Kini, giliran PKB yang menyatakan hal serupa. Dalam situasi ini, PAN langsung melangkah lebih jauh dengan mengusung nama Ketua Umumnya sendiri, Zulkifli Hasan, sebagai calon wakil presiden pendamping Prabowo. Langkah ini dipandang sebagai bentuk klaim atas kontribusi dan loyalitas partai dalam kemenangan Prabowo-Gibran, bersama Gerindra, Golkar, dan Demokrat.
Membaca Sinyal dan Menjaga Posisi
Usulan PAN ini menarik untuk dicermati karena tampak berbeda dengan narasi yang sebelumnya berkembang. Presiden Joko Widodo telah menyatakan harapannya agar Prabowo dan Gibran dapat memimpin untuk dua periode. Dengan mengusung pasangan Prabowo-Zulhas, PAN seolah menggesar peluang skenario Prabowo-Gibran.
Dinamika ini tidak terlepas dari upaya partai-partai koalisi dalam membaca arah politik pasca kepemimpinan Jokowi. Kunjungan sejumlah petinggi PAN dan Golkar ke rumah Jokowi di Solo pada Idul Fitri tahun lalu, yang menyatakan Jokowi sebagai "bos", sempat memicu analisis mengenai dualisme kepemimpinan. Sejak itu, PAN terlihat mengambil jarak dan lebih agresif mendeklarasikan dukungan penuh pada Prabowo.
Respons dari Internal Golkar
Sementara PAN sudah mengambil sikap, posisi Golkar di bawah Bahlil Lahadalia terlihat lebih berhati-hati. Bahlil, yang juga melakukan kunjungan serupa ke Solo, menyatakan dukungan pada pemerintahan Prabowo-Gibran saat ini, namun belum secara eksplisit mengangkat wacana dua periode.
Kehati-hatian ini memunculkan tanda tanya. Seorang elite Golkar, Maman Abdurrahman, pernah menegaskan bahwa partainya mendukung presiden yang sedang menjabat, bukan mantan presiden. Pernyataan itu sempat membuat posisi Bahlil goyah.
“Golkar masih fokus menyukseskan Pemerintahan Prabowo-Gibran,”
ujarnya, mengindikasikan bahwa partai tersebut masih memilih untuk berkonsentrasi pada agenda pemerintahan saat ini sebelum melangkah lebih jauh.
Menanti Kepastian di Tengah Keraguan
Keraguan yang ditunjukkan Golkar berpotensi menciptakan titik tekan tersendiri. Dalam lingkungan koalisi yang mulai menunjukkan arahnya, ketidakpastian dari salah satu partai besar dapat memicu gejolak, baik secara eksternal maupun internal. Prabowo Subianto, sebagai pemimpin koalisi, tentu tidak akan membiarkan situasi ini berlarut-larut.
Pertanyaan besarnya adalah apakah usulan PAN ini akan menjadi pembuka percakapan serius tentang format pasangan 2029, atau sekadar manuver politik untuk memperkuat posisi tawar di meja koalisi. Jawabannya akan tergantung pada bagaimana partai-partai kunci, termasuk Golkar, mulai menyusun kartu-kartu mereka dalam peta politik yang masih panjang.
(Direktur ABC Riset & Consulting)
Artikel Terkait
Arsenal Kokohkan Puncak Klasemen Usai City Taklukkan Liverpool
iPhone 18 Pro Max Diproyeksi Tembus 40 Jam Daya Tahan Baterai
BMKG Imbau Waspada Hujan Lebat hingga Sangat Lebat di Enam Provinsi
Wali Kota Bekasi Hadapi Ancaman Golok Saat Penertiban PKL di Teluk Pucung