GELORA.ME - Pelatih PSIM Yogyakarta, Jean-Paul van Gastel, memberikan tanggapan atas fenomena minimnya gol yang dicetak oleh lini depan timnya dalam beberapa pertandingan terakhir. Dalam konferensi pers jelang laga lanjutan, pelatih asal Belanda itu mengajak untuk melihat persoalan ini dari sudut pandang yang lebih luas, tidak semata-mata berfokus pada statistik akhir sang penyerang.
Lebih Dari Sekadar Angka di Papan Skor
Van Gastel mengakui bahwa para penyerangnya memang sedang mengalami fase yang kurang produktif. Nama-nama seperti Nermin Haljeta, Ezequiel Vidal, dan Deri Corfe sudah cukup lama tak mencatatkan namanya di kolom pencetak gol. Sebagai contoh, Haljeta terakhir kali membobol gawang lawan pada akhir Oktober lalu, atau sudah hampir empat bulan berlalu.
Namun, bagi Van Gastel, kontribusi seorang pemain depan tidak boleh dinilai hanya dari seberapa sering bola masuk ke jala lawan. Ada aspek permainan lain yang juga vital bagi kinerja tim secara keseluruhan.
Melihat Konteks yang Lebih Besar
Dalam penjelasannya yang terukur, pelatih berusia 52 tahun itu mencoba memberikan konteks di balik angka-angka yang tampak stagnan. Ia menekankan pentingnya mempertimbangkan situasi dan perjalanan yang dihadapi klub.
"Mereka perlu mencetak gol, itu sudah jelas," ujarnya dengan lugas. Namun, ia segera melanjutkan dengan sudut pandang yang berbeda. "Tetapi saya pikir Anda harus melihat konteks yang kami jalani sebagai klub, sebagai tim, dari mana klub ini berasal, dan apa yang tim saya tampilkan," tutur Van Gastel.
Pernyataan itu mengisyaratkan bahwa ada faktor-faktor di luar lapangan, seperti dinamika tim, tekanan, atau bahkan proses adaptasi, yang turut mempengaruhi performa individu. Van Gastel tampaknya ingin melindungi anak asuhnya dari kritik yang terlalu simplistik, sambil tetap menuntut perbaikan.
Tekanan dan Harapan ke Depan
Meski membela para pemainnya, nada Van Gastel tetap mengandung ekspektasi. Pengakuan bahwa para penyerang "perlu mencetak gol" menunjukkan bahwa hal tersebut tetaplah sebuah kewajiban yang tidak bisa dinegosiasikan. Tantangannya kini adalah bagaimana mengembalikan kepercayaan diri dan ketajaman para ujung tombak Laskar Mataram tersebut di sisa kompetisi.
Pendekatan sang pelatih ini mencerminkan keseimbangan antara memahami proses dan menuntut hasil—sebuah perspektif yang sering muncul dari pengalaman panjang mengarungi dunia sepak bola profesional. Keberhasilan PSIM mengakhiri tren ini akan sangat bergantung pada kemampuan Van Gastel menciptakan sistem yang mampu mengoptimalkan kembali potensi serangannya.
Artikel Terkait
Arsenal Kokohkan Puncak Klasemen Usai City Taklukkan Liverpool
iPhone 18 Pro Max Diproyeksi Tembus 40 Jam Daya Tahan Baterai
BMKG Imbau Waspada Hujan Lebat hingga Sangat Lebat di Enam Provinsi
Wali Kota Bekasi Hadapi Ancaman Golok Saat Penertiban PKL di Teluk Pucung