NASA Targetkan Maret 2026 untuk Misi Berawak Pertama Mengelilingi Bulan

- Minggu, 08 Februari 2026 | 03:00 WIB
NASA Targetkan Maret 2026 untuk Misi Berawak Pertama Mengelilingi Bulan

GELORA.ME - Badan antariksa Amerika Serikat, NASA, tengah mempersiapkan misi Artemis II, penerbangan berawak pertama program Artemis yang akan mengirim empat astronot mengelilingi Bulan. Misi yang ditargetkan pada kuartal pertama 2026 ini bertujuan untuk menguji sistem kritis pesawat ruang angkasa Orion dengan awak di dalamnya, sebelum pendaratan di Bulan pada misi selanjutnya. Persiapan ini berjalan meski terdapat evaluasi mendalam menyusul temuan teknis dari misi tanpa awak sebelumnya.

Target Peluncuran dan Tantangan Teknis

Setelah melalui serangkaian penundaan untuk memastikan kesiapan, NASA kini memfokuskan upayanya pada jendela peluncuran di awal tahun 2026. Dokumen internal terbaru menunjukkan target utama pada rentang 6 hingga 9 Maret, dengan opsi cadangan di awal April. Penjadwalan ulang ini merupakan langkah hati-hati menyusul beberapa kendala yang muncul selama persiapan, termasuk kebocoran hidrogen pada roket Space Launch System (SLS) dan masalah katup pada kapsul Orion yang telah diperbaiki. Keputusan ini mencerminkan pendekatan prioritas keselamatan di atas kecepatan jadwal.

Tim Astronot Pelopor

Misi bersejarah ini akan diemban oleh empat orang dengan latar belakang yang mengesankan: Komandan Reid Wiseman, Pilot Victor Glover, Spesialis Misi Christina Koch, dan Spesialis Misi Jeremy Hansen dari Badan Antariksa Kanada (CSA). Mereka akan menjadi manusia pertama yang melakukan perjalanan ke lingkungan Bulan dalam lebih dari setengah abad, menumpangi kapsul Orion yang dirancang untuk perjalanan jauh ke antariksa. Keberagaman dan keahlian kru ini menjadi simbol kolaborasi internasional dalam eksplorasi ruang angkasa modern.

Evaluasi Keamanan Perisai Panas

Salah satu aspek yang mendapat sorotan tajam dari para pengamat adalah keandalan perisai panas kapsul Orion. Pada misi uji coba Artemis I yang tanpa awak, perisai yang terbuat dari material bernama Avcoat itu menunjukkan keausan yang tidak sepenuhnya terprediksi, dengan beberapa bagian terkelupas dan meninggalkan bekas hangus.

Beberapa pakar, termasuk mantan astronot dan insinyur NASA Charles Camarda, telah menyuarakan keprihatinan karena desain yang sama akan digunakan untuk misi berawak tanpa uji terbang tambahan. Kekhawatiran ini muncul dari kompleksitas dan risiko yang melekat pada fase masuk kembali ke atmosfer Bumi dengan kecepatan sangat tinggi.

Menanggapi hal tersebut, NASA menyatakan telah melakukan modifikasi pada lintasan masuk untuk mengurangi beban panas. Pejabat senior badan antariksa itu menegaskan komitmen mereka terhadap keselamatan awak.

"Dari perspektif risiko, kami merasa sangat yakin," jelasnya dalam sebuah konferesni pers pada September 2025. Ia mengakui bahwa ketidakpastian selalu ada dalam penerbangan luar angkasa, namun keputusan yang diambil didasarkan pada analisis data yang mendalam.

Menuju Langkah Baru Eksplorasi

Artemis II bukan sekadar penerbangan mengelilingi Bulan, melainkan batu loncatan kritis yang akan memvalidasi teknologi dan prosedur operasional dengan awak manusia. Keberhasilannya sangat penting untuk membuka jalan bagi misi Artemis III yang direncanakan akan mendaratkan manusia, termasuk wanita pertama, di permukaan Bulan. Dengan persiapan yang teliti dan sikap waspada terhadap setiap temuan, NASA berusaha memastikan bahwa perjalanan kembalinya manusia ke Bulan dilakukan dengan fondasi keamanan yang paling kokoh.

Editor: Andi Saputra

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar