KAI Catat Lonjakan Penumpang Kereta di Aglomerasi Jateng-DIY Awal 2026

- Minggu, 08 Februari 2026 | 04:00 WIB
KAI Catat Lonjakan Penumpang Kereta di Aglomerasi Jateng-DIY Awal 2026

GELORA.ME - PT Kereta Api Indonesia (Persero) secara aktif memperkuat layanan transportasi rel di wilayah aglomerasi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Langkah ini diambil untuk merespons tingginya mobilitas masyarakat yang terlihat dalam data statistik, sekaligus memenuhi kebutuhan perjalanan harian, aktivitas ekonomi, dan konektivitas antarkota di kawasan tersebut. Peningkatan signifikan dalam jumlah penumpang pada awal tahun 2026 menjadi indikator nyata tren ini.

Merespons Dinamika Mobilitas Masyarakat

Berdasarkan pengamatan di lapangan, mobilitas penduduk di kawasan aglomerasi Jateng-DIY memang cenderung meningkat pada akhir pekan dan masa liburan. Pola perjalanan ini membuat layanan kereta api antarkota, bandara, dan perkotaan kian menjadi pilihan utama. Anne Purba, Vice President Corporate Communication KAI, menjelaskan fenomena ini. "Mobilitas masyarakat biasanya meningkat pada akhir pekan dan masa libur, sehingga layanan kereta api antarkota, bandara, dan perkotaan semakin menjadi moda transportasi utama di kawasan tersebut," tuturnya.

Koridor Semarang–Solo–Yogyakarta–Purwokerto, misalnya, menunjukkan intensitas pergerakan yang tinggi. Hal ini wajar mengingat koridor tersebut menjadi urat nadi yang menghubungkan pusat-pusat ekonomi, pendidikan, dan pariwisata. KAI pun berupaya memperkuat ekosistem mobilitas dengan mengoptimalkan layanan angkutan perkotaan sebagai bagian yang tak terpisahkan.

Layanan Andalan dan Pertumbuhan Penumpang

Salah satu bukti keberhasilan strategi ini terlihat pada kinerja KA Joglosemarkerto. Layanan yang menghubungkan Yogyakarta, Solo, Semarang, hingga Purwokerto ini banyak diandalkan keluarga, wisatawan, dan pelaku perjalanan bisnis. Jumlah pelanggannya naik dari 97.929 pada Januari 2025 menjadi 110.409 di bulan yang sama tahun 2026.

Pertumbuhan serupa juga terjadi pada layanan kereta bandara. KA Bandara Adi Soemarmo (KA BIAS) mencatat kenaikan penumpang dari 63.730 menjadi 74.102. Layanan ini menjadi penghubung vital antara pusat Kota Solo dengan wilayah Caruban dan Madiun, sekaligus mendukung konektivitas moda transportasi udara.

Sementara itu, Kereta Api Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) juga mengalami peningkatan, dari 229.716 menjadi 239.331 pelanggan. Keberadaan layanan reguler dan Xpress YIA memberikan pilihan yang fleksibel, terutama bagi wisatawan dan masyarakat yang membutuhkan akses cepat ke bandara.

Dukungan dari Layanan Komuter dan Lokal

Tren positif tidak hanya terjadi pada kereta jarak jauh. Commuter Line Yogyakarta–Palur (KRL Area VI Yogyakarta) mencatat lonjakan yang cukup berarti, dari 712.152 penumpang menjadi 758.375. Dengan 27 hingga 31 perjalanan harian yang melayani 11 stasiun, KRL ini telah menjadi tulang punggung mobilitas harian bagi warga yang menghubungkan Yogyakarta, Klaten, dan Solo Raya.

Layanan kereta lokal lainnya turut menunjukkan grafik yang menggembirakan. KA Prameks (Yogyakarta–Kutoarjo) tumbuh dari 86.973 menjadi 94.567 pelanggan. Sementara KA Batara Kresna (Purwosari–Wonogiri PP) mengalami peningkatan yang lebih tajam, dari 12.497 menjadi 16.294 penumpang. Peningkatan frekuensi perjalanan disebut-sebut menjadi salah satu faktor pendorong naiknya angka tersebut.

Melihat data-data ini, Anne Purba menegaskan peran strategis transportasi rel. Meningkatnya penggunaan kereta api menunjukkan fungsinya sebagai solusi mobilitas terintegrasi yang relevan.

"Kereta api menghadirkan perjalanan yang lebih tertata, nyaman, dan mudah diakses. Dengan layanan yang saling terhubung, kereta api menjadi solusi mobilitas yang relevan untuk berbagai kebutuhan perjalanan masyarakat," jelasnya.

Dari sudut pandang pengamat transportasi, perkembangan ini mengindikasikan pergeseran preferensi masyarakat. Dalam konteks aglomerasi yang padat aktivitas, kereta api menawarkan kepastian waktu dan kenyamanan yang mulai banyak dipertimbangkan, tidak hanya sekadar alternatif, melainkan sebagai pilihan utama.

Editor: Sugeng Hariyanto

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar