PDIP Bantah Keras Hoaks WA Hasto Soal Soeharto: Ini Faktanya

- Selasa, 11 November 2025 | 16:50 WIB
PDIP Bantah Keras Hoaks WA Hasto Soal Soeharto: Ini Faktanya
Hoaks Tangkapan Layar WA Sekjen PDIP Hasto Soal Soeharto - Gelora Media

PDIP Bantah Keras Hoaks Tangkapan Layar WA Sekjen Hasto Soal Soeharto

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) memberikan bantahan keras terkait beredarnya tangkapan layar atau screenshot percakapan di grup WhatsApp internal yang mengatasnamakan Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto.

Pesan palsu yang viral tersebut mengklaim bahwa Hasto Kristiyanto memberikan instruksi kepada pengurus partai untuk mendorong pihak luar agar menolak pemberian gelar pahlawan nasional kepada Presiden ke-2 RI, Soeharto.

Pernyataan Resmi Politikus PDIP

Politikus PDIP, Mohamad Guntur Romli, secara tegas menyatakan bahwa tangkapan layar percakapan WhatsApp itu adalah hoaks dan tidak benar adanya. Ia menegaskan bahwa siapa pun dapat dengan mudah memalsukan bukti percakapan semacam itu.

"Soal tangkapan layar yang beredar, siapa pun bisa bikin seperti itu. Itu palsu," tegas Guntur Romli dalam pernyataannya di Jakarta, Selasa 11 November 2025.

Tujuan Penyebaran Hoaks Hasto Kristiyanto

Menurut analisis Guntur, tujuan dari penyebaran hoaks ini sangat jelas, yaitu untuk melakukan pembusukan nama baik dan mengkambinghitamkan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto di mata publik.

Penolakan Soeharto adalah DNA Kader PDIP

Guntur Romli juga menambahkan penjelasan penting mengenai sikap internal partai. Ia menyatakan bahwa sikap penolakan terhadap Soeharto di kalangan kader PDIP adalah hal yang alami dan sudah menjadi bagian dari identitas partai.

"Penolakan terhadap Soeharto itu DNA kader-kader PDI Perjuangan, karena DNA kami melawan kezaliman, pembantaian manusia, KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme), dan bela rakyat kecil. Tidak perlu nunggu instruksi bagi kader-kader PDI Perjuangan untuk menolak Soeharto," pungkas Guntur Romli menegaskan.

Dengan pernyataan ini, PDIP berharap masyarakat tidak terpancing oleh informasi palsu dan dapat memverifikasi kebenaran berita sebelum menyebarkannya lebih lanjut.

Editor: Intan Maharani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar