GELORA.ME - Sebuah pernyataan dari mantan petinggi organisasi pendukung Presiden Joko Widodo (Jokowi) memicu perbincangan mengenai dinamika pencitraan dan karier politik di Indonesia. Saiful Huda Ems, mantan Ketua Umum Harimau Jokowi, menyatakan bahwa hingga kini belum ada politisi yang mampu menandingi Presiden ketujuh Republik Indonesia dalam hal membangun pencitraan dan melakukan manipulasi politik. Pernyataan tersebut disampaikan melalui keterangan tertulis pada Selasa, 10 Februari 2026.
Klaim Keahlian dalam "Ilmu Perkeliruan"
Dalam pandangannya, Saiful Huda menilai kesuksesan politik Jokowi tidak berakar pada kapasitas analisis strategis atau taktik yang biasa diasosiasikan dengan politisi kawakan. Ia justru menyoroti sebuah keahlian yang berbeda.
"Mereka kalah ahli dalam bidang itu dibandingkan dengan Jokowi. Makanya biasanya paling tinggi mereka hanya menjabat sebagai Menteri atau Wakil Menteri," tuturnya.
Lebih lanjut, ia menggambarkan karier moncer Jokowi bukanlah buah dari pemikiran mendalam atau strategi yang rumit, melainkan semata karena keahlian dalam bidang yang ia sebut sebagai "ilmu perkeliruan". Pernyataan ini mengundang tafsir mengenai kompleksitas komunikasi politik dan persepsi publik di era modern.
Perbandingan dengan Jalur Politik Konvensional
Saiful kemudian membandingkan jalan yang ditempuh Jokowi dengan proses konvensional yang sering dilalui para politisi. Ia menjelaskan bahwa lazimnya, untuk menjadi ahli dalam berpolitik diperlukan proses panjang yang melibatkan pembelajaran intensif dan pengalaman lapangan.
“Tapi tidak untuk Jokowi. Suruh Jokowi baca buku 10 halaman saja akan tertidur,” ucap Saiful dengan nada sinis, mengilustrasikan perbedaan pendekatan tersebut.
Menurutnya, ketekunan membaca buku-buku tebal, diskusi bertahun-tahun, dan pengalaman mengorganisir massa dalam waktu lama merupakan jalan biasa untuk kemudian dipercaya menjadi pemimpin. Klaim ini menyiratkan adanya dua model berbeda dalam membangun karier politik di Indonesia.
Peran Penting Ketua Umum PDIP
Di luar analisis mengenai kemampuan personal, Saiful Huda juga mengakui peran signifikan dari faktor eksternal, khususnya dukungan dari pimpinan partai pengusung. Ia menekankan bahwa peran Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, sangat besar dalam mengangkat Jokowi ke panggung nasional.
“Tanpa Megawati, mungkin Jokowi tidak seperti sekarang,” ungkapnya, menggarisbawahi betapa dukungan politik dari struktur partai yang mapan sering kali menjadi penentu krusial dalam kesuksesan elektoral seorang figur.
Pernyataan-pernyataan ini, yang berasal dari mantan bagian dari mesin pendukungnya sendiri, menawarkan sudut pandang unik untuk mencermati fenomena kepemimpinan dan pembentukan narasi publik dalam kancah politik Indonesia. Analisis semacam ini kerap muncul untuk mengupas hubungan antara citra, substansi, dan mekanisme pendukung di balik seorang pemimpin.
Artikel Terkait
Analisis: Dukungan Partai untuk Gibran di Pilpres 2029 Terbatas, Hanya PSI yang Dianggap Potensial
Analis: Wajar Gerindra Andalkan Prabowo untuk Pilpres 2029, Tapi Koalisi Belum Terbentuk
Mantan Wamenaker Sebut Parpol Berinisial K Tiga Huruf Terlibat Kasus Pemerasan Sertifikasi K3
Ketua GPA Kecam Isu Kapolri Membangkang sebagai Narasi Berbahaya