Kunjungan Afriansyah Noor ke Jokowi Dikritik Pengamat: Tidak Ada yang Spontan

- Senin, 09 Februari 2026 | 14:00 WIB
Kunjungan Afriansyah Noor ke Jokowi Dikritik Pengamat: Tidak Ada yang Spontan

GELORA.ME - Kunjungan Wakil Menteri Ketenagakerjaan sekaligus Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat, Afriansyah Noor, ke kediaman Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) di Solo, Jawa Tengah, pada Minggu (8/2/2026) siang, memantik beragam tafsir di kalangan politik. Pertemuan yang digambarkan sebagai kunjungan spontan itu dinilai pengamat sarat dengan pesan politik tersirat, terutama dalam meredakan ketegangan yang selama ini terlihat antara kubu Demokrat dan Jokowi.

Pertemuan yang Disebut "Spontan"

Afriansyah tiba di rumah Jokowi di Jalan Kutai Utara, Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, pada siang hari. Dalam kesempatan itu, ia mengaku tidak melaporkan kunjungannya terlebih dahulu kepada Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Menurut penuturannya, pertemuan itu terjadi secara mendadak.

"Kebetulan saya tidak melaporkan ke Pak SBY (kunjungan ke Jokowi), ini kan go show, spontanitas saja," ungkapnya seusai bertemu.

Ia menjelaskan, jadwal untuk bertemu dengan mantan presiden itu baru ia dapatkan saat sedang berada di Kelurahan Sondakan, Kecamatan Laweyan, Kota Solo, untuk agenda lain. "Saya takut Pak Jokowi sibuk, jadi saya ketika sampai Solo, saat kunjungan ke Sondakan, kita lihat (jadwal) dan saya dapat waktu (bertemu Jokowi) pukul 11.30 WIB," jelas Afriansyah.

Skeptisisme dari Pengamat Politik

Klaim spontanitas itu tidak serta merta dipercaya oleh pengamat politik Adi Prayitno. Dari sudut pandangnya, mustahil pertemuan antara pejabat tinggi partai dengan mantan presiden yang padat agenda bisa terjadi tanpa komunikasi sebelumnya.

"Tidak ada pertemuan yang disebut secara spontanitas, karena apapun judulnya Pak Afriansyah itu adalah Wasekjen Demokrat dan Pak Jokowi adalah mantan Presiden yang tingkat kesibukannya juga di atas rata-rata," urai Adi.

"Bagi saya, ini pertemuan (Jokowi dan Afriansyah) tidak lagi dalam ruang hampa, tidak ujug-ujug dan pastinya sudah ada komunikasi," imbuhnya.

Membaca Maksud di Balik Pertemuan

Adi meyakini, di balik kesan santai, pertemuan itu membawa misi politik yang jelas. Salah satunya adalah untuk meredakan tensi persaingan yang selama hampir setahun terakhir sering dihadap-hadapkan antara Partai Demokrat dengan Jokowi.

"Satu hal yang pasti bahwa pertemuan-pertemuan elit kunci semacam ini memang dikesankan hanya sebatas nostalgia dan spontanitas. Tapi di belakang layar pasti ada pesan-pesan yang tersirat," tuturnya.

Pesan utama yang ingin disampaikan, menurut analisis Adi, adalah penegasan bahwa Partai Demokrat tidak memiliki kaitan dengan polemik seputar ijazah Jokowi yang sempat ramai diperbincangkan. Selain itu, pertemuan itu juga bertujuan menunjukkan bahwa hubungan antara kedua pihak tidak seekstrem yang dipersepsikan publik.

"Yang kedua itu soal bagaimana ketegangan politik ya antara Demokrat dengan Pak Jokowi tidak seperti yang dipersepsikan publik, tidak seperti yang ditampakkan oleh bagaimana pembicaraan-pembicaraan publik, tapi keduanya biasa-biasa saja," katanya.

Oleh karena itu, Adi menilai Partai Demokrat perlu memberikan pernyataan resmi untuk mengklarifikasi maksud pertemuan tersebut dan mencegah spekulasi yang berlebihan. "Oleh karena itu menjadi penting sebenarnya dalam beberapa hari ke depan kita ingin mendengarkan bagaimana statement resmi dari Partai Demokrat soal pertemuan kedua tokoh ini," tukasnya.

Penjelasan dan Penegasan dari Afriansyah Noor

Sebelumnya, Afriansyah sendiri telah memberikan penjelasan mengenai substansi pertemuannya dengan Jokowi. Ia menyebut atmosfer pertemuan lebih bernuansa nostalgia dan diskusi ringan tentang kondisi nasional, termasuk dukungan untuk kelancaran pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

“Jadi ini nostalgia. Sekaligus kami berdiskusi hal-hal kecil. Dan tentunya ke depan pemerintahan Bapak Prabowo dan Mas Gibran sebagai wakil presiden ini bisa berjalan mulus sampai 2029. Kami dari kabinet Pak Prabowo-Gibran fokus bekerja,” ujar Afriansyah.

Dalam kapasitasnya sebagai Wamenaker, ia menegaskan fokusnya adalah menyelesaikan persoalan strategis di bidang ketenagakerjaan. “Kalau di bidang ketenagakerjaan, fokus kami soal pekerja, upah buruh, upah minimum, kemudian profesionalisme, serta bagaimana menciptakan kesejahteraan melalui BPJS Ketenagakerjaan,” jelasnya.

Demokrat dan Polemik Ijazah

Secara khusus, Afriansyah dengan tegas menyangkal keterkaitan partainya dengan isu ijazah Jokowi. Ia menegaskan isu tersebut bahkan tidak dibahas dalam pertemuan mereka.

“Kalau soal ijazah, saya tidak bersinggungan sama sekali karena saya tahu persis. Menurut keyakinan saya, Pak Jokowi selama berproses dalam politik hingga menjadi presiden sudah melalui tahapan-tahapan yang sah,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa karakter Partai Demokrat bukanlah partai yang gemar menyebarkan fitnah. “Demokrat sangat tidak mungkin membuat fitnah atau menuduh. Itu bukan wataknya Pak SBY, bukan wataknya Mas AHY, dan juga bukan wataknya Partai Demokrat,” lanjut Afriansyah.

Salam dan Pesan Persatuan

Afriansyah juga menyampaikan bahwa Jokowi menitipkan salam untuk SBY dan AHY. Pesan yang dibawa adalah ajakan untuk bersatu membangun bangsa.

"Harapan beliau, dengan jumlah penduduk Indonesia yang besar, sekitar 280 juta jiwa, kita harus bersama-sama membangun bangsa. Seluruh tokoh bangsa perlu bersatu untuk membuat negara ini lebih kuat, sejahtera, dan mantap,” ungkapnya.

Dengan penjelasan ini, Afriansyah menegaskan komitmen Partai Demokrat terhadap politik yang santun dan perannya dalam menjaga stabilitas serta persatuan nasional.

Editor: Gelora.me

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar