GELORA.ME - Sebanyak 158 siswa dan mahasiswa dari berbagai penjuru Indonesia berhasil mengikuti Asia Youth International Model United Nations (AYIMUN) Kelapa Gading Chapter pada 7-8 Februari 2026. Konferensi simulasi diplomasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ini digelar oleh International Global Network (IGN) bekerja sama dengan Yayasan Al Azhar Kelapa Gading, bertujuan mendekatkan pengalaman berdiplomasi internasional bagi pelajar di dalam negeri.
Mengenal Model United Nations (MUN)
Model United Nations (MUN) pada dasarnya adalah sebuah forum simulasi yang meniru mekanisme kerja sidang PBB. Dalam forum formal ini, para peserta berperan sebagai delegasi dari suatu negara untuk mendiskusikan, bernegosiasi, dan mencari solusi bersama atas berbagai isu global yang aktual. Topik yang dibahas beragam, mulai dari perubahan iklim dan konflik internasional hingga isu pendidikan, kesehatan global, dan hak asasi manusia. Melalui simulasi ini, para delegasi muda tidak hanya belajar teori diplomasi, tetapi juga langsung mempraktikkan dinamika penyelesaian masalah di tingkat global.
Misi Pengembangan Generasi Muda
Presiden IGN, Muhammad Fahrizal, dalam keterangan tertulisnya, menekankan bahwa acara ini lebih dari sekadar pembukaan babak baru. Ia melihatnya sebagai bagian dari upaya sistematis untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi dunia yang terus berubah.
"Hari ini, kita tidak hanya membuka chapter. Tetapi kita menyiapkan generasi muda untuk memimpin dunia yang dibentuk oleh perubahan yang pesat dan peluang yang tak terbatas," ujarnya.
Fahrizal menjelaskan, penyelenggaraan AYIMUN edisi khusus ini merupakan bentuk komitmen IGN dalam mendukung pengembangan kapasitas pemuda melalui program edukasi berstandar internasional. Jejak organisasinya dalam menggelar konferensi serupa di kawasan Asia Pasifik telah melibatkan ribuan delegasi dari lebih dari 180 negara.
Proses Seleksi dan Komposisi Peserta
AYIMUN Kelapa Gading Chapter sendiri tidak langsung diikuti oleh semua pendaftar. Dari total 231 peserta yang mendaftar, hanya 158 orang yang dinyatakan lolos seleksi dan berhak menjadi peserta resmi. Mereka berasal dari lebih dari 35 sekolah dan universitas, tidak hanya dari wilayah Jabodetabek, tetapi juga dari kota-kota besar lain seperti Medan, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Yang menarik, rentang jenjang pendidikan peserta cukup luas, mencakup SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi.
Fahrizal mengungkapkan bahwa konferensi regional ini sengaja dirancang untuk menjangkau pelajar lokal. "AYIMUN Kelapa Gading Chapter hadir sebagai event Model United Nations (MUN) berskala regional. Konferensi ini menegaskan tujuan AYIMUN untuk membawa pengalaman MUN lebih dekat kepada pelajar lokal, sehingga siswa dari berbagai daerah dapat mengakses pembelajaran diplomasi internasional lebih dekat," tuturnya.
Simulasi Diplomasi dan Pembentukan Karakter
Selama dua hari, para peserta terjun langsung ke dalam berbagai sesi diskusi komite dan simulasi sidang diplomasi yang intens. Mereka melakukan negosiasi, lobi, dan penyusunan dokumen resolusi layaknya diplomat sungguhan di markas PBB. Setiap sesi dipandu oleh chair atau fasilitator yang berpengalaman, memastikan diskusi berjalan produktif dan para delegasi dapat mengasah keterampilan komunikasi, kolaborasi, serta pemecahan masalah secara nyata.
Lebih dari sekadar prestasi akademik, konferensi ini juga menitikberatkan pada pembentukan karakter kepemimpinan. Peserta dilatih untuk berpikir strategis, bekerja dalam tim yang beragam, dan menghargai perbedaan perspektif—kompetensi yang krusial untuk bekal mereka di masa depan. Interaksi antarpelajar dari berbagai daerah ini pun turut memperkaya wawasan global sekaligus membangun kepercayaan diri mereka sebagai calon pemimpin.
Komitmen terhadap Akses Pendidikan Diplomasi
Keikutsertaan ratusan pelajar muda ini menunjukkan tingginya minat dan kebutuhan akan wadah pengembangan diri berbasis diplomasi. Fahrizal menyoroti signifikansi angka partisipasi tersebut.
"Dengan total 158 peserta dari lebih 35 sekolah dan universitas, konferensi ini menegaskan pentingnya pendidikan diplomasi sebagai sarana pengembangan soft skill dan kompetensi global sejak dini," ungkapnya.
IGN melalui acara ini menegaskan kembali misinya untuk membangun jembatan antara pelajar Indonesia dengan dunia diplomasi internasional, serta menciptakan ekosistem pembelajaran yang berkelanjutan. "Konferensi ini membuktikan bahwa simulasi diplomasi dapat diakses oleh siswa lokal tanpa terbatas oleh lokasi atau sumber daya," jelas Fahrizal, menutup pernyataannya.
Artikel Terkait
Xpeng Soroti Kecerdasan Buatan sebagai Masa Depan Mobil di IIMS 2026
BPJPH Tegaskan Produk Nonhalal Boleh Dijual Asal Dilabeli Jelas
5 Pilihan MPV Bekas Rp 50 Jutaan untuk Keluarga, dari Avanza hingga Panther
Mantan Wamenaker Peringatkan Menkeu Purbaya Tinggal Sejengkal Lagi Terjebak Kasus Hukum