Skema Jatah Preman di Riau: Gubernur Abdul Wahid Diduga Balik Modal Politik Lewat Proyek APBD

- Minggu, 09 November 2025 | 14:25 WIB
Skema Jatah Preman di Riau: Gubernur Abdul Wahid Diduga Balik Modal Politik Lewat Proyek APBD
Skema Jatah Preman di Riau: Gubernur Jadi Pengusaha Proyek untuk Balik Modal Politik

Skema "Jatah Preman" di Riau: Gubernur Jadi Pengusaha Proyek untuk Balik Modal Politik

Kasus Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang menimpa Gubernur Riau, Abdul Wahid, mengungkap praktik balik modal politik yang sistematis. KPK mengungkap bahwa proyek-proyek anggaran di pemerintahan daerah dijadikan sebagai jalur pembayaran utang politik.

Modus Korupsi Proyek APBD untuk Balik Modal

Berdasarkan keterangan resmi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), skema yang digunakan adalah dengan menambah anggaran di Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan. Dari anggaran yang membengkak ini, sebagian dana dibagikan kepada kepala daerah.

Juru bicara KPK menyebut skema ini sebagai "semacam jatah preman sekian persen". Praktik ini menunjukkan bahwa jabatan gubernur tidak hanya dipandang sebagai amanah publik, tetapi juga sebagai investasi politik yang harus segera menghasilkan keuntungan.

Fakta Kasus dan Bukti yang Disita KPK

Dalam penggerebekan, KPK menyita uang tunai dalam berbagai mata uang dengan total nilai sekitar Rp 1,6 miliar. Besarnya nilai uang yang disita mengindikasikan bahwa aliran dana ini bukan transaksi satu kali, melainkan bagian dari rangkaian pembayaran yang terstruktur.

Dampak Buruk terhadap Pelayanan Publik

Skema "jatah preman" ini memiliki dampak yang sangat merugikan masyarakat:

  • Anggaran pembangunan infrastruktur berkurang karena harus dialokasikan untuk biaya tersembunyi
  • Kualitas proyek publik menurun karena motivasi utamanya bukan lagi pelayanan masyarakat
  • Kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan daerah semakin merosot
  • Terjadi siklus korupsi sistemik yang merusak tatanan demokrasi

Solusi untuk Memutus Rantai Korupsi Politik

Untuk mematahkan skema "pengusaha proyek" di tingkat daerah, diperlukan beberapa langkah reformasi:

  1. Transparansi dan akuntabilitas dana kampanye untuk mencegah utang politik
  2. Pengawasan internal yang lebih kuat dan independen pada proses pengadaan barang dan jasa
  3. Pendidikan integritas bagi pejabat daerah tentang makna jabatan sebagai amanah publik
  4. Penegakan hukum yang konsisten terhadap praktik korupsi proyek APBD

Kasus Gubernur Abdul Wahid di Riau menjadi bukti nyata bahwa tanpa perubahan sistemik dalam pengelolaan kampanye, penganggaran, dan pengawasan, kursi pemerintahan daerah akan tetap menjadi arena pengembalian investasi politik, bukan tempat untuk melayani rakyat.

Editor: Intan Maharani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar