Dalam pernyataan resminya, Lopez menegaskan bahwa pasukan AS membunuh banyak anggota pengawal kepresidenan saat menculik Presiden Nicolas Maduro dan Ibu Negara Cilia Flores. Bahkan, sejumlah staf kepresidenan yang berstatus warga sipil juga menjadi target.
"Angkatan bersenjata nasional Bolivarian dengan tegas menolak penculikan pengecut terhadap warga Nicolas Maduro Moros, presiden konstitusional Republik Bolivarian Venezuela dan Panglima Tertinggi kami, serta istrinya," tegas Lopez, seperti dikutip dari kantor berita Sputnik.
Lopez menambahkan, aksi penculikan tersebut didahului oleh upaya pasukan AS untuk melumpuhkan sistem keamanan di sekitar presiden dengan cara yang brutal. "Kejahatan itu dilakukan setelah sebagian besar tim keamanannya, personel militer, serta warga sipil yang tidak bersalah dibunuh dengan kejam," ujarnya.
Insiden ini semakin memanas setelah laporan mengenai operasi militer AS di Venezuela dan penculikan Presiden Maduro menjadi sorotan media internasional. Situasi keamanan dan politik di Venezuela kini menjadi fokus dunia.
Artikel Terkait
Atalia Praratya dan Ridwan Kamil Resmi Cerai, Ini Isi Putusan PA Bandung 2026
Anak Politisi PKS Maman Suherman Tewas Ditikam, Pelaku HA Ditangkap dan Minta Dihukum Mati
Richard Lee Diperiksa Polisi: Tersangka Kasus Pelanggaran Kesehatan & Perlindungan Konsumen
Analisis Aristo Pangaribuan: Mengapa Kasus Ijazah Jokowi Hampir Mustahil Dihentikan (SP3)