Intervensi AS di Venezuela: Pola Hegemoni & Ironi Sejarah Amerika Latin Terulang

- Minggu, 04 Januari 2026 | 23:00 WIB
Intervensi AS di Venezuela: Pola Hegemoni & Ironi Sejarah Amerika Latin Terulang

Respons kawasan terhadap intervensi di Venezuela terpolarisasi sempurna, menunjukkan bagaimana sudut pandang politik menentukan sikap. Pemerintahan sayap kanan umumnya menyambut baik langkah AS sebagai "pengangkatan tumor". Sementara, pemerintahan kiri dan progresif mengutuknya sebagai pelanggaran kedaulatan yang membangkitkan trauma lama. Bagi mereka, pesannya jelas: hari ini targetnya Maduro, besok bisa jadi pemerintahan mana pun yang menolak hegemoni Washington.

Konsep "Lingkup Pengaruh" dan Elastisitas Hukum Internasional

Seorang Wakil Presiden Asosiasi Amerika menyebut peran Washington sebagai "polisi di 'lingkup pengaruhnya'". Istilah abad ke-19 ini menusuk klaim AS tentang "tatanan internasional berbasis aturan". Logika "polisi" ini elastis: kehendak rakyat dianggap suci jika selaras dengan strategi AS, tetapi menjadi alasan intervensi jika berseberangan. AS memegang dua pedoman: Hukum Internasional untuk disarankan kepada negara lain, dan Doktrin Eksepsionalisme untuk membenarkan tindakannya sendiri.

Implikasi Regional: Ancaman Terselubung dan Kedaulatan yang Rapuh

Ironi lebih jauh terlihat ketika Presiden AS menyebut opsi "memberantas kartel narkoba Meksiko". Presiden Meksiko kemudian dengan hati-hati menegaskan hubungan bilateral yang "sangat baik". Ini menunjukkan wibawa paksa: AS bisa menangkap presiden di negara tetangga, sekaligus mengisyaratkan operasi serupa di masa depan. Negara yang menjadi target hanya bisa mempertahankan kerja sama permukaan, sebuah tanda jelas hubungan kekuasaan yang timpang dan kedaulatan yang rapuh.

Kesimpulan: Siklus Hegemoni dan Mentalitas Intervensi yang Abadi

Aksi di Venezuela adalah cetak ulang dari drama klasik hegemoni. "Kota di atas bukit" kembali mengklaim membawa cahaya, tetapi bagi banyak negara Amerika Latin, ia justru menciptakan bayangan panjang ketakutan akan intervensi. Babak baru ini mengingatkan pada kisah kuno tentang kedaulatan yang bisa dilanggar dan definisi "keadilan" yang dipegang oleh kekuatan utara. Ironi terbesarnya adalah keyakinan tulus sang aktor utama bahwa mereka selalu menulis legenda mulia yang baru, sementara pola dasarnya tetap sama. Yang mungkin perlu "diadili" bukan hanya seorang pemimpin, tetapi mentalitas hegemonik yang menganggap kekerasan dan intervensi sebagai alat utama penyelesaian politik—sebuah mentalitas yang, sayangnya, berada di luar yurisdiksi pengadilan mana pun.

Halaman:

Komentar