Mohan Hazian Dituduh Pelecehan Seksual, Brand dan Penerbit Putus Hubungan

- Rabu, 11 Februari 2026 | 09:00 WIB
Mohan Hazian Dituduh Pelecehan Seksual, Brand dan Penerbit Putus Hubungan

GELORA.ME - Kreator konten dan pemilik merek fesyen Mohan Hazian menjadi sorotan publik setelah dituding melakukan pelecehan dan kekerasan seksual oleh seorang talenta melalui utas viral di platform X (sebelumnya Twitter). Tuduhan yang muncul pada awal Februari 2025 itu memicu gelombang respons, mulai dari pengakuan korban lain hingga pemutusan kerja sama oleh sejumlah brand, termasuk merek miliknya sendiri. Mohan Hazian telah membantah semua tuduhan berat tersebut melalui pernyataan tertulis, setelah membatalkan rencana konferensi pers.

Kronologi Awal Tuduhan Pelecehan Seksual

Gelombang kasus ini bermula dari sebuah utas panjang yang diunggah oleh akun X @aarummanis, pemilik inisial Saa, pada Minggu (8/2). Saa mengisahkan pengalamannya sebagai talenta untuk sebuah pemotretan merek lokal pada Mei 2025. Ia menyebut situasi berubah mencekam usai sesi kerja, saat ia ditinggal berdua dengan pemilik merek berinisial M, yang kemudian diidentifikasi netizen sebagai Mohan Hazian.

Dalam kesaksiannya, Saa mendeskripsikan tindakan tidak senonoh yang dilakukan pelaku meski ia telah menolak keras dan melawan secara fisik. Situasi itu membuatnya merasa sangat terancam.

"Saya pada saat itu 90% yakin saya akan diperkosa," akui Saa.

Ia menambahkan bahwa pelaku terus melanjutkan aksi pelecehan meski korban sudah menangis histeris, disertai dengan manipulasi emosional selama kejadian.

Dukungan dan Kesaksian Korban Lain

Unggahan Saa itu seperti membuka katup. Tak lama setelahnya, sejumlah korban lain mulai menghubunginya secara anonim untuk berbagi pengalaman serupa. Di antara mereka terdapat seorang remaja 17 tahun dan seorang model asal Malaysia. Hingga perkembangan terakhir, lebih dari tujuh orang telah menyampaikan kesaksian.

"3 korban lainnya udah ngehubungin aku. Ini cerita dari salah satu korban yang mau berbagi cerita. Dia umurnya 17 tahun. Hatiku makin hancur pas tahu kalo bukan cuma aku (korbannya)," tulis Saa dalam pembaruan utasnya.

Dalam cuitan terpisah, Saa mengungkapkan tekanan emosional yang ia rasakan sembari berusaha tetap kuat untuk dirinya dan para penyintas lainnya. Pengakuan-pengakuan tersebut umumnya menyebutkan pola pelecehan baik secara fisik maupun verbal oleh Mohan Hazian terhadap talenta yang bekerja untuk mereknya.

Dampak Langsung: Pemutusan Kerja Sama oleh Berbagai Pihak

Viralnya tuduhan ini langsung berimbas pada karier profesional Mohan Hazian. Dalam hitungan hari, tiga entitas secara berurutan memutuskan hubungan kerja sama dengannya.

Pertama, penerbit Shira Media mengumumkan penghentian seluruh aktivitas komersial untuk buku-buku karya Mohan Hazian dan berencana menariknya dari peredaran. Penerbit secara tegas menyatakan berdiri di sisi korban dan mendukung proses investigasi yang adil.

Kedua, agensi USS menyatakan telah memecat Mohan Hazian dari program JOHAN di kanal YouTube mereka dan menghapus semua konten terkait. Keputusan ini disebut sebagai bentuk komitmen menciptakan ruang kreatif yang aman dan saling menghormati.

Yang paling signifikan, merek fesyen Thanksinsomnia yang lekat dengan namanya juga mengumumkan bahwa Mohan Hazian tidak lagi memiliki keterlibatan operasional maupun profesional dengan brand tersebut. Keputusan-keputusan ini mencerminkan sensitivitas tinggi industri terhadap isu kekerasan seksual.

Klarifikasi dan Pembelaan dari Mohan Hazian

Menghadapi badai kritik, Mohan Hazian awalnya mengunggah video klarifikasi di Instagram yang kemudian dihapus. Dalam video itu, ia membantah semua tuduhan. Rencana awalnya, ia akan menggelar konferensi pers pada Selasa (10/2) untuk menjelaskan duduk perkaranya.

"Intinya, semua tuduhan yang dituduhkan ini adalah tuduhan yang tidak berdasar," tutur Mohan dalam video tersebut.

Namun, rencana konferensi pers itu akhirnya dibatalkan. Mohan Hazian memilih merilis pernyataan tertulis di akun Instagram pribadinya pada hari yang sama. Dalam pernyataan panjang itu, ia meminta maaf atas kegaduhan yang terjadi dan mengakui membutuhkan waktu untuk mencerna situasi.

Ia secara tegas membantah tuduhan paling berat yang dialamatkan kepadanya. "Namun yang harus saya garis bawahi saya tidak seperti yang dituduhkan, saya bukan seorang pemerkosa dan saya tidak pernah memperkosa siapapun," tulisnya.

Meski demikian, Mohan mengakui adanya "kesalahan" dan "khilaf" yang dilakukannya dengan wanita lain di masa lalu, yang telah menyakiti keluarganya. Ia menyatakan siap menerima segala konsekuensi profesional yang telah menimpanya sebagai bagian dari pembelajaran. Pernyataan ini dinilai banyak pihak sebagai pembelaan yang tetap menyangkal inti tuduhan pemerkosaan, sambil mengakui perilaku tidak pantas lainnya.

Respons dari Figur Publik dan Lingkungan Sekitar

Kasus ini juga memantik komentar dari sejumlah figur publik. Dokter Tirta, salah satu kreator konten ternama, menyampaikan kekecewaannya secara terbuka melalui akun X-nya. Ia mengkritik keras klarifikasi awal Mohan Hazian yang dinilainya tidak memadai.

"Sebagai orang yang mengenal sampean di skena brand lokal, jujur klarifikasi ente ngeselin. Circlenya juga mengecewakan. Terkesan Mewajarkan," tulis Dokter Tirta.

Lebih lanjut, ia mengingatkan publik tentang kompleksitas pembuktian dalam kasus pelecehan seksual, di mana korban seringkali dalam kondisi trauma. "Ga semua pelecehan itu harus ada sperma (bukti). Itu masalahnya," lanjutnya dalam cuitan lain.

Dokter Tirta juga menyebut telah menegur lingkaran pertemanan Mohan Hazian, namun tidak mendapatkan penjelasan yang transparan. Komentarnya menyoroti tanggung jawab kolektif dan budaya yang seringkali diam dalam menyikapi tuduhan serius semacam ini.

Hingga berita ini diturunkan, kasus ini masih berkembang di ranah publik dan media sosial. Tuduhan yang diangkat oleh Saa dan korban lainnya belum dibawa ke ranah hukum formal, sementara dampak profesional terhadap Mohan Hazian telah nyata terjadi. Polemik ini kembali mengingatkan akan pentingnya mekanisme yang jelas dan ruang aman bagi korban untuk bersuara, serta proses verifikasi yang cermat untuk semua pihak yang terlibat.

Editor: Wulan Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar