GELORA.ME - Mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dikabarkan merasa gelisah menyusul analisis sejumlah pengamat politik yang memprediksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) akan kesulitan berkembang menjelang Pemilu 2029. Pernyataan ini disampaikan oleh Ketua Majelis Syura Partai Ummat, Amien Rais, dalam sebuah video singkat yang diunggah pada Rabu, 11 Februari 2025. Kekhawatiran tersebut muncul karena PSI, yang kini dipimpin putra bungsu Jokowi, Kaesang Pangarep, dianggap sebagai satu-satunya kendaraan politik potensial bagi Gibran Rakabuming Raka untuk maju dalam kontestasi pilpres mendatang.
Analisis Amien Rais Terhadap Peta Politik
Dalam paparannya, Amien Rais memberikan penilaian yang cukup tajam terhadap peluang partai yang baru saja dipimpin Kaesang tersebut. Ia melihat ada sejumlah tantangan struktural yang harus dihadapi PSI untuk bisa menjadi partai besar dalam waktu dekat. Analisis ini tidak hanya menyoroti basis dukungan elektoral, tetapi juga dinamika internal yang mungkin mempengaruhi daya tarik partai di mata pemilih.
Dengan nada retoris yang khas, Amien Rais menggambarkan harapan untuk meloloskan Gibran ke kontestasi pilpres sebagai sesuatu yang sulit diwujudkan. "Jadi mengharapkan Gibran Fufufafa bisa lolos menyeberangi jembatan KPU merupakan harapan kosong bak fatamorgana," tuturnya.
Survei dan Tantangan ke Depan
Lebih lanjut, Rais mengungkapkan faktor lain yang diduga menambah beban pikiran Jokowi, yaitu hasil sejumlah lembaga survei independen. Data-data tersebut, menurutnya, kerap menempatkan nama Gibran Rakabuming pada posisi yang belum optimal dalam bursa calon presiden untuk Pemilu 2029. Padahal, dalam narasi yang dibangun Amien Rais, Gibran dianggap sebagai penerus utama dari garis politik keluarga.
Ia menegaskan posisi sentral Gibran dalam konteks tersebut. "Padahal hanya Gibran saja yang masih tersisa sebagai harapan Jokowi satu-satunya," jelasnya.
Observasi ini menyoroti sebuah fase transisi politik yang dinamis, di mana kaderisasi dan regenerasi partai menjadi faktor krusial. Prediksi tentang masa depan sebuah partai baru tentu melibatkan banyak variabel, mulai dari kemampuan membaca aspirasi publik, konsolidasi internal, hingga strategi komunikasi politik yang efektif. Perkembangan lebih lanjut dari peta politik ini tentu akan terus menjadi perhatian banyak kalangan dalam beberapa tahun ke depan.
Artikel Terkait
Prabowo Gelar Pertemuan Intensif dengan Lima Konglomerat Bahas Ekonomi
Amien Rais Klaim Kesehatan Jokowi Menurun Pasca-Masa Jabatan
Susno Duadji Ungkap Prabowo Soroti Oligarki dan Kedaulatan Negara dalam Pertemuan Tertutup
Roy Suryo dan Kuasa Hukum Gugat Pasal Pencemaran Nama Baik di UU ITE dan KUHP ke MK