GELORA.ME - Kota Malang bersiap menyambut perhelatan akbar Nahdlatul Ulama (NU) yang digelar Sabtu hingga Minggu mendatang. Acara Mujahadah Akbar dalam rangka peringatan satu abad organisasi Islam terbesar di Indonesia ini diperkirakan akan dihadiri lebih dari 100 ribu orang. Persiapan yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk gereja dan sekolah, menandai skala dan dampak acara ini terhadap tata kota, sekaligus menggarisbawahi dinamika internal yang sedang berlangsung di tubuh NU.
Kerukunan Sosial Menyambut Acara Besar
Semangat gotong royong dan toleransi antarumat beragama tampak jelas dalam persiapan menyambut ribuan tamu dari luar kota. Gereja Katolik Katedral Malang, misalnya, dengan sukarela mengurangi jadwal misa dari enam menjadi hanya dua kali selama akhir pekan demi mengantisipasi penutupan jalan dan kesulitan parkir. Di sisi lain, sejumlah sekolah dan masjid milik Muhammadiyah disiapkan sebagai tempat transit. Sementara itu, Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) turut membuka layanan singgah yang dilengkapi dengan hidangan untuk para pengunjung. Langkah-langkah kolaboratif ini menunjukkan bagaimana sebuah acara keagamaan besar dapat diselenggarakan dengan dukungan penuh dari seluruh lapisan masyarakat.
Dua Perayaan dan Dinamika Internal
Perhelatan di Malang ini bukan satu-satunya perayaan seabad NU. Sepekan sebelumnya, peringatan serupa telah digelar di Istora Senayan, Jakarta, tepat pada tanggal kelahiran organisasi tersebut, 31 Januari 1926. Keberadaan dua acara yang terpisah kerap ditafsirkan sebagai cerminan dari dinamika internal di tubuh NU. Salah satu tokoh Nahdliyin, KH Imam Jazuli, pendiri Pondok Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA) Cirebon, memberikan pandangannya.
"Sudah tidak bisa dirukunkan lagi," ungkapnya.
Doktor lulusan Al Azhar Kairo ini merujuk pada upaya mendamaikan dua kubu, yakni kubu Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dan Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar. Meski berbagai upaya perdamaian telah dilakukan, termasuk pertemuan langsung antar-petinggi, perbedaan visi dan misi dinilai masih mengemuka.
"Secara visi dan misi sudah tidak bisa bersatu," tambah Kiai Imam Jazuli.
Meski demikian, nuansa perpecahan absolut tampaknya perlu dilihat dengan kehati-hatian. Baru-baru ini, pleno lengkap yang dihadiri seluruh pihak, termasuk Kiai Akhyar via zoom, berlangsung dengan suasana yang konstruktif untuk membahas agenda muktamar mendatang.
Antisipasi dan Skala Kegiatan
Panitia penyelenggara di Malang tampak tidak ingin setengah-setengah. Data resmi yang masuk menunjukkan lebih dari 104 ribu peserta telah mendaftar. Untuk mengakomodasi arus massa dan kendaraan, pemerintah setempat akan menutup 12 jalur jalan utama sepanjang Sabtu hingga Minggu siang. Acara inti akan digelar di Stadion Gajayana, yang terletak kurang dari satu kilometer dari Gereja Katedral, dengan rangkaian kegiatan dimulai Sabtu malam. Kegiatan akan diisi dengan salawat, khataman Al-Qur'an secara massal, salat malam, dan puncaknya pada Minggu pagi dengan salat subuh berjamaah dan sambutan.
Kehadiran Presiden dan Pembacaan Politik
Salah satu momen yang paling dinantikan adalah konfirmasi kehadiran Presiden terpilih, Prabowo Subianto. Kehadiran beliau di Malang, setelah absen dalam perayaan di Jakarta pekan lalu, tentu akan dibaca sebagai sebuah sinyal politik yang signifikan. Pada acara di Istora Senayan, pemerintah hanya diwakili oleh Menteri Agama kala itu, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, seorang tokoh yang dikenal netral. Perbedaan tingkat kehadiran pejabat negara ini, ditambah dengan perkiraan jumlah massa yang jauh lebih besar di Malang, memberikan nuansa dan bobot yang berbeda pada kedua perayaan tersebut. Momentum ekonomi yang mulai membaik pasca-koreksi pasar saham juga disebut-sebut dapat mendukung kemeriahan acara.
Suasana ini mengingatkan pada perayaan satu abad NU versi kalender Hijriah dua tahun lalu di Sidoarjo, yang dihadiri Presiden Joko Widodo dan berlangsung sangat meriah. Perhelatan kali ini di Malang, dengan segala persiapannya yang matang dan dukungan lintas komunitas, berpotensi menciptakan kenangan kolektif baru, tidak hanya secara spiritual tetapi juga dalam konteks sosial-politik yang lebih luas.
Artikel Terkait
Dokter Kulit Ingatkan Risiko Infeksi dari Pakaian Bekas yang Tak Dibersihkan Maksimal
Drama Dua Gol Bunuh Diri Bawa Everton Taklukkan Fulham
Tiga Warga Kendal Hanyut di Sungai Bodri, Satu Masih Dicari
Caretaker PSBS Biak Soroti Tekanan Psikologis PSM Jelang Duel di Sleman