Arsitek Papua Barat Pecahkan Rekor Tinju 24 Jam untuk Galang Dana Anak Kanker

- Senin, 09 Februari 2026 | 03:30 WIB
Arsitek Papua Barat Pecahkan Rekor Tinju 24 Jam untuk Galang Dana Anak Kanker

GELORA.ME - Seorang arsitek dan pengusaha klinik kesehatan asal Fakfak, Papua Barat, Patrick Winata, baru saja mencatatkan namanya dalam Guinness World Records. Ia berhasil menyelesaikan tantangan tinju nonstop selama 24 jam dalam acara bertajuk "Proyek 24" yang digelar di BSD, Tangerang, pada akhir Oktober 2025. Pencapaian fisik yang ekstrem ini tidak hanya menjadi kado ulang tahunnya yang ke-40, tetapi juga merupakan bagian dari penggalangan dana untuk rumah singgah anak-anak penderita kanker.

Dua Putra Fakfak dengan Jalannya Masing-masing

Fakfak, sebuah kabupaten di Papua Barat, telah melahirkan sejumlah tokoh dengan prestasi di bidangnya masing-masing. Jika Menteri Investasi Bahlil Lahadalia dikenal dengan kiprahnya di panggung politik nasional, Patrick Winata memilih jalur yang berbeda. Keduanya sama-sama mengakui akar mereka dengan bangga menyandang gelar 'Putra Fakfak'. Patrick, yang marga Huang dan tidak terkait dengan keluarga konglomerat, membangun reputasi melalui disiplin tinggi di dunia olahraga dan bisnis kesehatannya di Senayan, Jakarta.

Dari Fakfak ke Ring Dunia: Perjalanan Seorang Petinju

Minat Patrick pada tinju berawal dari pengalaman masa kecilnya di Fakfak. Ia mengakui sering menjadi korban perundungan (bullying), yang justru memicu ketakutannya akan kekerasan. Latar belakang keluarganya yang sederhana, dengan kakek seorang nelayan dari Fujian, membentuknya menjadi pribadi yang ulet. Di akhir masa SMP, ia sempat berniat masuk seminari, namun orang tuanya yang bijak menyarankannya untuk menyelesaikan SMA terlebih dahulu.

Kepindahannya ke Tangerang untuk bersekolah di SMA Santa Laurensia membuka cakrawalanya. "Dunia ini ternyata luas," ujarnya, mengingat kontras antara kehidupan di Fakfak yang dikelilingi gunung dan laut dengan dinamika kota besar. Ia kemudian melanjutkan studi arsitektur di Universitas Trisakti dan berprofesi sebagai arsitek, namun gairahnya pada tinju tak pernah padam.

Disiplin Ketat sebagai Fondasi

Komitmen Patrick terhadap tinju tercermin dari pola hidupnya yang sangat terjaga. Rutinitas hariannya dimulai pukul 07.00 dengan segelas kopi, dilanjutkan sarapan empat butir telur orak-arik, serta buah-buahan seperti pisang, kurma, anggur, atau kiwi. Untuk makan siang, menu andalannya adalah dada ayam rebus dengan bumbu minimalis atau ikan, mengingat kebiasaannya mengonsumsi ikan tongkol semasa kecil di Fakfak. Makanan berat seperti soto atau sate sudah tidak lagi menarik seleranya, demi menjaga kondisi tubuh tetap prima untuk bertinju.

Detik-Detik Menegangkan di Atas Ring

Persiapan menuju rekor dunia itu bukan tanpa penolakan. Istrinya, Fivi Ariyanti, awalnya menentang karena khawatir dengan risiko cedera serius. Namun, Patrick melanjutkan rencana dengan persiapan matang selama empat bulan, termasuk latihan marathon di treadmill. Tantangan "Proyek 24" dilaksanakan dengan ketat, diawasi dua kamera dan wasit, mengikuti format pertandingan profesional: 12 ronde (masing-masing 3 menit) diikuti istirahat 30 menit, dan berulang hingga 24 jam.

Patrick mengungkapkan momen tersulitnya. "Sepuluh menit terakhir semua badan saya seperti kram," tuturnya. Di detik-detik akhir, tangan kirinya sudah tidak bisa digerakkan dan kedua kakinya terasa terpaku di lantai ring. Untuk mengusir kantuk di jam-jam kritis dini hari, ia dibantu sekitar 15 teman dekat yang sengaja datang memberi dukungan.

Lebih dari Sekadar Rekor: Aksi Sosial untuk Sesama

Event tersebut tidak hanya berorientasi pada prestasi pribadi. Seluruh proses pertandingan disiarkan secara langsung (live streaming) yang juga berfungsi sebagai kanal penggalangan dana. Penonton dapat memberikan donasi secara digital, dan hasilnya, yang terkumpul lebih dari Rp 200 juta, disalurkan sepenuhnya kepada sebuah rumah singgah bagi anak-anak penderita kanker di Tangerang. Uniknya, perayaan ulang tahun Patrick dan rumah singgah tersebut justru berlangsung di hari yang sama, menambah makna kebersamaan dalam acara itu.

Setelah berhasil melewati 24 jam, Patrick langsung merendam tubuhnya di air dingin selama 30 menit untuk pemulihan. Pencapaian ini menjadi pembuktian ketahanan fisik dan mentalnya.

Melihat ke Depan

Ditanya tentang rencana ke depan, Patrick fokus pada pengembangan bisnis utamanya. "Membuka klinik yang sama di Kemang dan PIK," jelasnya. "Lalu berikutnya lagi buka di Bali."

Sementara itu, meski sama-sama sebagai putra daerah Fakfak yang membanggakan, Patrick mengaku belum pernah bertemu secara langsung dengan Menteri Bahlil Lahadalia. Keduanya terus berkarya di jalannya masing-masing, mengukir prestasi yang menginspirasi dari tanah Papua.

Editor: Rian Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar