GELORA.ME - Korban dugaan penganiayaan yang melibatkan Bahar bin Smith, Rida, akhirnya tampil di depan publik untuk pertama kalinya. Ia menyampaikan kesaksiannya tentang penyiksaan yang dialaminya selama lebih dari tiga jam. Kehadirannya terjadi dalam aksi unjuk rasa yang digelar ratusan anggota GP Ansor dan Banser di depan Polres Metro Tangerang Kota, Sabtu (7 Februari 2026), menuntut proses hukum yang transparan.
Kesaksian Korban di Tengah Aksi Solidaritas
Rida muncul di hadapan massa aksi saat Pimpinan Cabang GP Ansor Kota Tangerang, Midyani, sedang menyampaikan orasi. Secara fisik, kondisi pria bertubuh gempal itu terlihat telah pulih, meski langkahnya masih sedikit tertatih. Luka memar akibat pengeroyokan pada Minggu (21 September 2025) lalu sudah tak lagi tampak. Ia mengenakan seragam khas Banser—jaket loreng hijau-cokelat, kemeja merah, celana hitam, dan peci—dengan jaket bertuliskan "NKRI Harga Mati" di bagian dada.
Di tengah-tengah dukungan rekan-rekannya, yang sesekali melontarkan candaan untuk menghiburnya, Rida membagikan pengalaman traumatis yang masih membekas. Ia mengisahkan detik-detik penyiksaan yang dilakukan lebih dari sepuluh orang di sebuah kamar.
"Malam itu saya dipersekusi di sebuah kamar itu lebih dari 10 orang dan mereka bolak-balik orang itu memukuli saya selama lebih dari tiga jam," tuturnya di hadapan massa yang menyimak dengan khidmat.
Detil Kekerasan yang Dialami
Rida memastikan Bahar bin Smith turut serta dalam penyiksaan yang berlangsung hingga Senin (22 September 2025) dini hari. Salah satu momen yang paling membekas adalah ketika ia dicekik dan disekap dengan handuk hingga nyaris kehabisan napas.
"Yang membekas bagi saya saat Bahar bin Smith dua kali menyekap saya pakai handuk bahkan sampai saya kehabisan nafas terus saya disiram air," terangnya.
Kekerasan yang berlarut-larut itu akhirnya membuatnya sempat tak sadarkan diri. Meski lukanya telah sembuh, ingatan akan peristiwa nahas itu masih jelas terpampang di benaknya.
Tiga Tuntutan Tegas dari Ansor dan Banser
Midyani, yang memimpin aksi tersebut, menyatakan bahwa unjuk rasa ini merupakan instruksi langsung dari pimpinan pusat organisasi. Aksi ini dibangun atas tiga poin tuntutan utama. Pertama, sebagai bentuk dukungan penuh terhadap Rida, yang merupakan kader Ansor sekaligus Kepala Satuan Koordinasi Rayon (Kasatkoryon) Banser Kecamatan Tangerang.
“Alhamdulillah kondisi Sahabat Rida sudah kembali pulih dan bisa bergabung bersama kami menyampaikan aspirasi di hadapan pihak kepolisian,” ujar Midyani.
Kedua, organisasi menuntut kepolisian mengungkap tuntas kasus penganiayaan usai tablig akbar di Masjid Nurul Islam, Poris Plawad Utara, Cipondoh, Kota Tangerang. Mereka mendesak agar semua pelaku, yang menurut pengakuan korban berjumlah lebih dari sepuluh orang, dijerat hukum.
Ketiga, mereka memprotes pemberian penangguhan penahanan terhadap tiga tersangka selain Bahar bin Smith oleh Satreskrim Polres setempat. Mereka menilai langkah ini menimbulkan tanda tanya.
"Proses hukum yang berlaku kami ikuti dan hormati, karena keterangan korban pelakunya itu lebih dari 10 orang, jadi ya semua itu harus diberi hukuman," tegas Midyani.
"Lalu tiga tersangka yang sempat dilepaskan harus dimasukkan kembali ke dalam penjara, sebab kalau pelaku melakukan penangguhan penahanan, kami berpikirnya aneh-aneh ada apa yang terjadi di sana (dalam ruang pemeriksaan)," lanjutnya.
Dukungan Moril untuk Kapolres
Poin terakhir adalah pernyataan dukungan moril kepada Kapolres Metro Tangerang Kota, Kombes Pol Raden Muhammad Jauhari, agar berani mengungkap seluruh pelaku tanpa ragu. Midyani menyadari adanya tekanan akibat nama besar Bahar bin Smith dan banyaknya simpatisan, namun ia mendorong polisi untuk tetap transparan.
"Tujuan kehadiran kami adalah mendukung moril dan materilnya bapak-bapak polisi yang ada di Polres Metro Tangerang Kota, InshaAllah Ansor Banser siap mendukung, mendoakan Kapolres dan jajaran agar tidak ragu menyelesaikan kasus ini sesegera mungkin," jelasnya.
Suasana Aksi Unjuk Rasa
Aksi yang dipimpin langsung oleh Sekjen PP GP Ansor Rifqi Al Mubarok dan Midyani ini berlangsung tertib namun penuh semangat. Sejak pukul 13.30 WIB, massa mulai berkumpul di Jalan Perintis Kemerdekaan, Babakan. Mereka melakukan long march dari Kawasan Pendidikan Cikokol dengan membawa bendera, poster, dan alat pengeras suara.
Suasana semakin bergelora ketika seorang pemandu di atas mobil bak terbuka meneriakkan selawat dan menyanyikan lagu khas GP Ansor. Setibanya di depan Mapolrestro, tuntutan untuk menangkap Bahar bin Smith bergema berulang kali.
"Tangkap Bahar, tangkap Bahar, jebloskan ke dalam penjara," seru massa aksi serentak, mengikuti komando pemandu.
Yang menarik, massa aksi tidak hanya berasal dari lokal Tangerang. Ratusan kader Banser dari Jawa Tengah dan Jawa Timur disebutkan telah tiba sejak dua hari sebelumnya, menunjukkan besarnya perhatian dan solidaritas atas kasus ini dari berbagai daerah.
Artikel Terkait
Arbeloa Wanti-wanti Real Madrid Hadapi Ujian Berat di Mestalla Lawan Valencia
Jusuf Kalla: Hunian Vertikal Solusi Kunci Atasi Macet dan Banjir di Jakarta
Imlek 2026: Makna Filosofis Warna Merah dan Semangat Shio Kuda Api
Presiden Prabowo Beri Koin Kenegaraan kepada Qari di Acara Satu Abad NU