Arab Saudi Ultimatum UEA 24 Jam: Ketegangan Memanas di Yamen, Ini Penyebabnya

- Selasa, 30 Desember 2025 | 20:25 WIB
Arab Saudi Ultimatum UEA 24 Jam: Ketegangan Memanas di Yamen, Ini Penyebabnya
Arab Saudi Ultimatum UEA Keluar dari Yaman dalam 24 Jam - Konflik Terbaru

Arab Saudi Beri Ultimatum 24 Jam ke UEA untuk Tinggalkan Yaman, Ketegangan Memanas

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) kembali memanas setelah insiden terbaru di Yaman. Pemicunya adalah perbedaan dukungan terhadap faksi-faksi yang bertikai di negara konflik tersebut.

Ultimatum 24 Jam dan Serangan Udara di Pelabuhan Al Mukalla

Pemerintah Saudi, melalui Kementerian Pertahanannya, secara resmi mengeluarkan ultimatum kepada pasukan Uni Emirat Arab. Mereka diminta untuk segera meninggalkan wilayah Yaman dalam waktu 24 jam.

Ultimatum ini disampaikan menyusul serangan udara yang dilancarkan oleh koalisi pimpinan Saudi di Pelabuhan Al Mukalla, Yaman. Menurut laporan Reuters, serangan tersebut diklaim sebagai respons atas aktivitas militer tertentu.

Klaim Saudi: Targetkan Pengiriman Senjata dari UEA

Dalam pernyataan resmi yang dikutip oleh Saudi Press Agency (SPA), Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyatakan bahwa serangan udara terbatas itu menargetkan senjata dan kendaraan tempur.

"Awak kedua kapal sengaja mematikan sistem pelacakan dan menurunkan sejumlah besar persenjataan serta kendaraan tempur untuk mendukung pasukan Dewan Transisi Selatan (STC)," bunyi pernyataan tersebut. Operasi militer dilakukan untuk menetralisir ancaman dan mencegah eskalasi yang ditimbulkan oleh pengiriman senjata tersebut.

Akarnya: Perbedaan Dukungan terhadap Faksi di Yaman

Ketegangan ini berakar dari dukungan yang berbeda antara kedua negara sekutu itu. Arab Saudi menyatakan dukungan penuh kepada Ketua Dewan Presidensi Yaman, Rashad Al Alimi, yang diakui secara internasional.

Di sisi lain, Uni Emirat Arab diketahui mendukung Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC). Kelompok ini memiliki agenda untuk memisahkan diri dan menghidupkan kembali negara Yaman Selatan yang merdeka, sebuah visi yang berseberangan dengan tujuan koalisi Saudi.

Insiden terbaru di Pelabuhan Al Mukalla ini memperlihatkan retakan yang semakin dalam di antara dua kekuatan utama di Semenanjung Arab, dan berpotensi memperumit upaya perdamaian serta stabilitas di Yaman.

Editor: Rian Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar