GELORA.ME - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan Jumat (13/2/2025), melanjutkan koreksi dari sesi sebelumnya. Pelemahan ini terjadi di tengah aksi jual asing yang masif dan sentimen negatif dari bursa global, khususnya Amerika Serikat, yang tertekan kekhawatiran atas dampak ekspansi kecerdasan buatan.
Tekanan di Bursa Domestik
Pada pembukaan, IHSG tercatat anjlok 8.222 poin atau 0,57 persen. Tekanan jual tampak luas, dengan indeks LQ45 dan JII masing-masing merosot 0,86 persen dan 0,71 persen. Saham-saham unggulan yang biasanya menjadi penopang indeks, seperti BBCA, BBRI, BMRI, hingga ASII, TLKM, dan ANTM, juga tercatat berada di zona merah.
Analis pasar menilai pelemahan ini sebagai koreksi alami setelah penguatan signifikan selama tiga hari berturut-turut. Kondisi ini diperparah oleh pelemahan nilai tukar Rupiah dan aksi jual bersih investor asing yang mencapai angka triliunan rupiah di pasar reguler.
Rully Arya Wisnubroto, Head of Research and Chief Economist Mirae Asset, memberikan konteks lebih dalam. Ia menyebutkan, selain faktor teknis, sentimen pasar juga dibebani oleh isu-isu fundamental.
"Investor asing di pasar saham kembali mencatatkan net sell yang sangat besar, dengan jual bersih di pasar reguler sekitar Rp2 triliun, sementara BBCA kembali menjadi salah satu target utama dengan net sell asing sekitar Rp890 miliar," jelasnya.
Menurutnya, dua isu utama yang mengganggu kepercayaan investor adalah potensi penurunan bobot Indonesia dalam indeks MSCI dan pemangkasan outlook peringkat utang Indonesia.
Gelombang Penjualan dari Wall Street
Tekanan terhadap IHSG tidak terlepas dari kondisi bursa global yang bergejolak. Bursa saham Amerika Serikat ditutup dengan penurunan tajam pada Jumat waktu setempat. Kekhawatiran baru muncul di kalangan investor, yang mulai mempertimbangkan dampak disruptif dari kemajuan kecerdasan buatan (AI) terhadap lapangan kerja dan model bisnis tradisional.
Indeks Dow Jones Industrial Average ambles 1,34 persen, diikuti S&P 500 yang merosot 1,57 persen. Tekanan terberat dirasakan oleh saham teknologi, yang membuat Nasdaq Composite terkoreksi lebih dalam, yaitu 2,04 persen. Lonjakan hampir 18 persen pada indeks volatilitas (VIX) ke level 20,82 semakin mengkonfirmasi sentimen ketakutan yang melanda pasar.
Gejolak dari Wall Street ini dengan cepat menjalar ke bursa saham di berbagai belahan dunia. Sebagian besar bursa utama Eropa dan Asia menutup perdagangan di wilayah negatif, meski dengan kedalaman yang bervariasi. Harga komoditas seperti minyak mentah dan emas juga ikut tertekan, mengindikasikan pergeseran modal menuju aset yang dianggap lebih aman.
Perubahan Sentimen Terhadap Teknologi AI
Episentrum tekanan pasar kali ini terletak pada perubahan persepsi investor terhadap sektor teknologi dan AI. Setelah bulan-bulan euforia, pelaku pasar kini mulai mencermati sisi gelap dari revolusi tersebut.
Kekhawatiran utama berpusat pada potensi gangguan besar-besaran terhadap pasar tenaga kerja dan ketidakpastian terhadap profitabilitas jangka panjang perusahaan di berbagai industri. Pergeseran sentimen ini menandai fase baru di pasar keuangan global, di mana investor tidak hanya memandang potensi pertumbuhan, tetapi juga mulai secara serius mempertimbangkan risiko stabilitas ekonomi yang lebih luas yang dibawa oleh disrupsi teknologi.
Artikel Terkait
Persis Solo dan Malut United Bertekad Bangkit di Laga Kandang Pekan ke-21 BRI Liga 1
BPJS Kesehatan Bantah Kelalaian Soal Penonaktifan Peserta PBI, Sebut Data Baru dari Kemensos Telat
AHM Siapkan 60 Bus dan 32 Truk untuk Program Mudik Bareng Honda 2026
Atletico Madrid Hajar Barcelona 4-0 di Leg Pertama Semifinal Copa del Rey