GELORA.ME - Seorang sopir taksi online mengaku harus menegur dua penumpangnya yang diduga melakukan aksi mesum di dalam mobil selama perjalanan dari Stasiun Juanda, Jakarta Pusat, menuju Cipulir, Jakarta Selatan, pada Selasa (10/2) malam. Peristiwa yang terjadi di tengah lalu lintas ibu kota ini memicu perhatian publik dan kini tengah diselidiki oleh pihak kepolisian.
Kronologi Aksi di Kursi Belakang
Menurut pengakuan sopir bernama Azmi Rahmat, orderan itu bermula dari titik jemput di sekitar Kementerian ESDM. Awalnya, hanya penumpang pria yang naik. Baru sekitar 500 meter kemudian, di sebuah halte, penumpang perempuan bergabung. Perjalanan sejauh 12 kilometer itu pun dimulai.
Namun, rasa janggal sudah muncul di benak Azmi sejak awal. Perilaku penumpang perempuan, yang langsung merebahkan diri, membuatnya curiga. Dugaan itu terbukti tak lama kemudian.
“Dari awal naik aja tuh si cewek kayak ngumpet-ngumpet. Terus langsung rebahan. Sekitar 3 kilometer dari titik jemput itu dia udah langsung melakukan aksinya,” tuturnya.
Momen Teguran Sopir
Merasa ada yang tidak beres, Azmi lantas menurunkan spion tengah untuk mengamati kondisi di belakang. Apa yang dilihatnya mengejutkan. Posisi kepala penumpang perempuan sudah bukan lagi di paha sang pria, melainkan dadanya. Lebih dari itu, ia melihat tangan penumpang pria aktif merogoh ke dalam baju dan celana perempuan tersebut.
Azmi memilih bersikap tenang sejenak, menunggu momen yang tepat untuk memberi peringatan. Ia baru angkat bicara ketika menganggap tindakan mereka sudah melampaui batas.
“Saya tunggu sampai tangannya masuk celana, baru saya tegur. Bener aja masuk ke celana,” ucapnya tegas.
Ia juga mengaku mendengar suara-suara yang tidak pantas. Yang membuatnya semakin kesal, kedua penumpang itu tidak menunjukkan penyesalan. Bahkan, saat turun di tujuan, mereka masih sempat tersenyum.
Pertimbangan di Balik Kemudi
Banyak yang bertanya, mengapa Azmi tidak langsung menghentikan perjalanan dan menurunkan mereka? Sopir yang berpengalaman ini menjelaskan dilema yang dihadapi para pengemudi aplikasi. Prosedur untuk mengakhiri perjalanan secara paksa dinilai rumit dan berpotensi merugikan dirinya.
“Kalau diminta turun itu prosesnya panjang banget, harus telepon customer service, belum lagi antre,” jelasnya. Ia juga mengkhawatirkan keselamatan akunnya sebagai mitra pengemudi, terlebih setelah sempat melontarkan kata-kata kasar dan menyebarkan rekaman kejadian tersebut.
“Yang terburuk itu putus mitra nantinya dari akun saya,” tambah Azmi. Ini adalah pengalaman pertamanya menghadapi kejadian seperti ini selama berkarier. Menurut perkiraannya, usia kedua penumpang itu masih sangat muda, tidak lebih dari 25 tahun.
Penyelidikan Kepolisian Dimulai
Merespons viralnya peristiwa ini, pihak kepolisian setempat mulai turun tangan. Kapolsek Kebayoran Lama, Kukuh Islami, mengonfirmasi bahwa penyelidikan telah dimulai untuk mengungkap identitas kedua pelaku.
“Kita belum tahu siapa orangnya, kami nanti lakukan penyelidikan terlebih dahulu, terutama kami nanti akan cari tahu siapa yang sopir di dalam mobil ini, kan dia yang mengetahui informasi siapa yang penumpang, yang berbuat mesum yang dia tegur itu,” ungkap Kukuh.
Ia telah memerintahkan tim Reskrim untuk melacak dan mewawancarai sopir terkait sebagai langkah awal. Tujuannya jelas: menemukan identitas pasangan muda-mudi tersebut untuk proses hukum lebih lanjut.
Kejadian ini menyisakan pelajaran penting tentang etika dan batasan dalam menggunakan layanan transportasi umum. Ruang mobil taksi online, meskipun privat, tetaplah ruang publik berbayar yang wajib dijaga kesopanannya oleh semua pihak.
Artikel Terkait
Malut United Hadapi Persijap Jepara dalam Laga Penting di Ternate
Akses Jalan Utama di Kampung Sekumur Akhirnya Terbuka Setelah Terputus 10 Hari Pascabanjir Bandang
Aktivis Soroti Ijazah Jokowi di KPU Tak Ada Tanggal Legal
Persebaya Ajak Suporter Donasi Alat Tulis di Laga Kontra Bhayangkara FC