GELORA.ME - Menjelang Ramadan 2026, aksi nyata untuk mengatasi krisis air bersih pascabencana di Aceh terus bergulir. Sebanyak 12 unit sumur bor berhasil dibangun oleh mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Angkatan 83/WPS, menyebar di sepuluh kabupaten dan kota. Inisiatif ini merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat yang bertujuan menjawab kebutuhan mendesak warga sekaligus membentuk karakter calon pemimpin Polri.
Jangkauan Program dan Respons Mendesak
Program pembangunan sumur ini dimulai dari Kota Langsa, kemudian diperluas secara bertahap ke wilayah-wilayah lain yang terdampak. Titik-titik bantuan menjangkau Aceh Timur, Aceh Utara, Aceh Tenggara, Pidie, Pidie Jaya, Lhokseumawe, Bireuen, Bener Meriah, Nagan Raya, hingga Aceh Barat. Kedua belas sumur bor tersebut hadir sebagai solusi konkret atas rusaknya infrastruktur air dan tercemarnya sumber air masyarakat pascabencana.
Bagi banyak warga di lokasi terdampak, kesulitan mendapatkan air bersih telah menjadi persoalan hidup sehari-hari. Kondisi ini kian terasa berat menjelang bulan suci Ramadan, di mana kebutuhan air untuk bersuci, memasak, dan keperluan ibadah lainnya meningkat signifikan.
Lebih dari Sekadar Bantuan, Ini Bagian dari Pendidikan Karakter
Ketua STIK, Irjen Eko Rudi Sudarto, menegaskan bahwa kegiatan ini memiliki dimensi yang lebih dalam daripada sekadar proyek fisik tahunan. Menurutnya, pengabdian langsung di lapangan adalah metode pendidikan karakter yang esensial bagi calon perwira.
“Pengabdian masyarakat tahun ini, Mahasiswa S1 STIK Angkatan 83/WPS diberangkatkan ke Aceh untuk dua tujuan penting. Pertama, menjalankan misi kemanusiaan di wilayah bencana. Kedua, sebagai ruang pembentukan watak dan kepekaan sosial bagi para calon pemimpin Polri,” jelas Eko dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 12 Februari 2026.
Dia melanjutkan bahwa kepemimpinan di institusi Polri tidak hanya dibentuk di ruang kelas atau lapangan latihan, tetapi juga melalui pengalaman langsung merasakan dan meringankan kesulitan yang dihadapi masyarakat. Aceh, dalam konteks ini, dipandang sebagai ruang belajar yang sangat berharga.
Sinergi Lapangan dan Prinsip Keberlanjutan
Pelaksanaan proyek ini berjalan dengan dukungan penuh jajaran kepolisian di daerah, di bawah koordinasi Polda Aceh. Sinergi ini memungkinkan identifikasi titik-titik prioritas yang paling membutuhkan menjadi lebih cepat dan tepat, memastikan bantuan benar-benar sampai kepada yang berhak.
Di sejumlah lokasi, respons warga sangat antusias. Kehadiran sumur bor secara langsung meringankan beban mereka yang sebelumnya harus menempuh jarak jauh hanya untuk mendapatkan air bersih.
Dari sisi teknis, pembangunan dilakukan dengan pertimbangan matang. Tim melakukan survei awal untuk mempelajari kondisi geologis dan ketersediaan air tanah di setiap lokasi. Pendekatan ini diambil agar sumur yang dibangun tidak hanya berfungsi untuk sementara, tetapi juga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat setempat.
Artikel Terkait
SETARA Institute Soroti Ekstraktivisme sebagai Tantangan Utama Bisnis dan HAM di Indonesia
Bupati Sukabumi Resmikan Biogas dan Solar Dryer House Berbasis Komunitas
Influencer Kuliner Filipina Tewas Usai Konsumsi Kepiting Setan Beracun
Polisi Selidiki Penumpang Diduga Berbuat Mesum di Mobil Taksi Online Cipulir