Ahli Jepang Usulkan Sistem Silvofishery untuk Kawasan Mangrove Sungai Tiram, Bintan

- Kamis, 12 Februari 2026 | 04:30 WIB
Ahli Jepang Usulkan Sistem Silvofishery untuk Kawasan Mangrove Sungai Tiram, Bintan

GELORA.ME - Kawasan mangrove Sungai Tiram di Desa Penaga, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, sedang dikaji untuk dikembangkan menjadi kawasan budidaya perikanan berkelanjutan dengan sistem silvofishery. Inisiatif ini digagas oleh seorang ahli dan pecinta mangrove asal Jepang, Naoto Akune, yang melihat potensi ekologis dan ekonomi yang besar di lokasi tersebut. Metode ini dinilai mampu memadukan pelestarian lingkungan dengan peningkatan produktivitas perikanan secara harmonis.

Potensi Sungai Tiram untuk Model Berkelanjutan

Naoto Akune, yang baru-baru ini berkunjung ke Bintan untuk kegiatan penanaman mangrove, menyoroti keunggulan ekosistem Sungai Tiram. Ia menilai, karakteristik kawasan tersebut sangat cocok untuk dijadikan percontohan budidaya yang mengutamakan keseimbangan alam. Sistem silvofishery yang ia usung bukanlah hal baru, melainkan sebuah pendekatan tradisional yang telah terbukti keampuhannya di Jepang dan beberapa negara Asia Tenggara dalam menciptakan simbiosis antara hutan bakau dan usaha perikanan.

Konsep dasarnya adalah integrasi. Sebagian besar lahan, sekitar 60-80 persen, dipertahankan sebagai hutan mangrove yang utuh. Sementara itu, sisanya yang 20-40 persen dapat dialokasikan untuk parit atau kolam budidaya komoditas seperti ikan, udang, dan kepiting.

Fungsi Ganda Mangrove dalam Ekosistem

Lebih dari sekadar penyangga fisik, mangrove memainkan peran biologis yang krusial dalam sistem ini. Akune menjelaskan dengan detail bagaimana ekosistem bakau bekerja mendukung kegiatan budidaya.

"Mangrove ini sangat penting karena berfungsi sebagai penyaring alami, menjaga kualitas air, dan menyediakan nutrisi bagi biota," ungkapnya.

Dengan fungsi alami tersebut, tekanan operasional dapat berkurang secara signifikan. Kebutuhan akan pakan buatan dan obat-obatan kimiawi bisa ditekan, yang pada gilirannya menekan biaya produksi dan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Hasilnya adalah sebuah siklus usaha yang lebih sehat dan berkesinambungan.

Manfaat Ekologis dan Ekonomi yang Berjalan Beriringan

Selain mendukung produktivitas tambak, kehadiran mangrove yang terjaga memberikan manfaat ekologis yang lebih luas. Akune menekankan bahwa kawasan bakau yang sehat merupakan benteng alami terhadap ancaman bencana hidrometeorologi, seperti abrasi dan badai. Dengan demikian, pengembangan silvofishery di Sungai Tiram bukan hanya sekadar proyek ekonomi, tetapi juga investasi jangka panjang untuk ketahanan lingkungan wilayah pesisir.

"Kawasan mangrove ini potensial dikembangkan menjadi model budidaya berkelanjutan yang mampu menjaga ekosistem sekaligus menghasilkan nilai ekonomi dengan sistem silvofishery," tegas Akune.

Gagasan ini muncul dalam momentum yang tepat, bersamaan dengan kegiatan penanaman mangrove yang melibatkan komunitas lokal dan jurnalis. Hal ini menunjukkan bahwa kolaborasi berbagai pihak menjadi kunci untuk menerjemahkan visi keberlanjutan ini dari wacana menjadi aksi nyata di lapangan. Ke depan, implementasi model ini di Sungai Tiram diharapkan dapat menjadi pembelajaran berharga bagi pengelolaan kawasan pesisir lain di Indonesia.

Editor: Tommy Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar