Dalam sesi darurat Dewan Keamanan PBB, utusan Venezuela, Samuel Moncada, mengecam aksi militer AS sebagai "serangan bersenjata yang tidak sah dan tanpa dasar hukum." Moncada menegaskan bahwa serangan ini didorong oleh keinginan AS untuk menguasai sumber daya alam Venezuela.
"Venezuela adalah korban serangan ini karena sumber daya alamnya. Minyak, energi, sumber daya strategis, dan posisi geopolitik negara kami secara historis telah menjadi faktor keserakahan dan tekanan eksternal," tegas Moncada. Ia menambahkan bahwa aksi AS ini merupakan pelanggaran mencolok terhadap Piagam PBB dan mengingatkan pada praktik kolonialisme.
Moncada menuntut Dewan Keamanan PBB bertindak dan meminta pembebasan serta pemulangan segera Presiden Maduro dan Ibu Negara Flores ke Venezuela.
Kecaman Keras dari Sekutu Regional
Kecaman juga datang dari negara-negara Amerika Latin. Utusan Kolombia untuk PBB, Leonor Zalabata Torres, secara tegas mengutuk serangan tersebut sebagai pelanggaran nyata terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Venezuela.
"Jika suatu negara, terlebih anggota tetap Dewan ini, mengabaikan hukum internasional, lalu apa peran dewan ini?" tanya Torres dalam pidatonya.
Sementara itu, utusan Kuba, Ernesto Soberon Guzman, menyebut Washington sedang mengejar "rencana hegemonik dan kriminal" terhadap Venezuela. Guzman menegaskan bahwa masa depan Venezuela harus ditentukan rakyatnya sendiri tanpa intervensi asing.
Peristiwa ini menyoroti kembali ketegangan geopolitik di kawasan Amerika Latin dan mempertanyakan kembali prinsip kedaulatan negara dalam hukum internasional di era modern.
Artikel Terkait
AS Tarik Diri dari 66 Organisasi Internasional: Dampak & Kekhawatiran Indonesia
Panduan Lengkap Pengiriman Barang dari China ke UAE via Laut: Dokumen & Bea Cukai
Iran Siaga Tempur Tertinggi: Ancaman ke Israel & Peringatan Trump, Analisis Lengkap
Indonesia Terpilih Jadi Presiden Dewan HAM PBB 2026: Arti, Komitmen, dan Dampaknya