Bitcoin Terseret Koreksi, Investor Tunggu Data Inflasi AS

- Jumat, 13 Februari 2026 | 17:30 WIB
Bitcoin Terseret Koreksi, Investor Tunggu Data Inflasi AS

GELORA.ME - Pasar aset kripto kembali menunjukkan kerapuhan menjelang rilis data inflasi kunci Amerika Serikat. Pada Jumat (13/2) pagi, harga Bitcoin terkoreksi dan bertahan di kisaran USD 66.000, mencerminkan sikap hati-hati investor yang memilih menunggu kejelasan arah kebijakan moneter The Fed. Sentimen wait and see ini tidak hanya menekan Bitcoin, tetapi juga menyeret kapitalisasi pasar secara keseluruhan.

Tekanan Jual dan Pergeseran Minat Investor

Dalam 24 jam terakhir, tekanan jual cukup signifikan. Bitcoin tercatat terdepresiasi 2,22 persen, sementara total kapitalisasi pasar kripto menyusut 1,85 persen menjadi sekitar USD 2,24 triliun. Meski demikian, dominasi Bitcoin yang tetap tinggi di level 58,80 persen menunjukkan aset kripto utama ini masih menjadi penopang sentimen. Tekanan serupa juga dirasakan Ethereum, yang kembali terperosok di bawah level psikologis USD 2.000.

Di tengah pelemahan itu, muncul pola menarik. Minat sebagian investor tampak beralih ke aset yang dianggap lebih aman. Emas tokenisasi seperti Tether Gold (XAUT) justru menguat, mencapai level USD 5.070 per ons. Pergeseran ini mengindikasikan upaya pelaku pasar mencari perlindungan (safe-haven) di tengah ketidakpastian.

Fokus Pasar Tertuju pada Data Inflasi AS

Semua mata kini tertuju pada rilis data Indeks Harga Konsumen (IHK/CPI) Amerika Serikat untuk Januari. Data ini dinilai sangat krusial karena akan menjadi bahan pertimbangan utama Federal Reserve dalam rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) bulan Maret mendatang. Analis dari sejumlah bank besar, termasuk JPMorgan Chase dan Bank of America, memproyeksikan inflasi akan melandai menjadi 2,5 persen secara tahunan.

“Ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve juga mengalami perubahan,” ungkap Panji Yudha, Financial Expert dari Ajaib. Ia menambahkan, “Peluang penurunan suku bunga pada Maret meningkat dari 7 persen menjadi 19 persen sepanjang bulan ini, seiring tanda-tanda perlambatan permintaan konsumen di AS.”

Dampak Volatilitas: Likuidasi dan Arus Dana ETF

Volatilitas tinggi yang terjadi dalam seharusnya tidak hanya berdampak pada harga spot, tetapi juga memicu gelombang likuidasi besar-besaran di pasar derivatif. Data menunjukkan total likuidasi mencapai USD 297 juta, dengan mayoritas—sekitar 77 persen—berasal dari posisi long. Angka ini mengkonfirmasi bahwa banyak trader yang sebelumnya optimis terpaksa menutup posisi mereka akibat koreksi mendadak.

Dinamika serupa terlihat dari arus dana ETF Bitcoin spot, yang menjadi barometer minat investor institusional. Setelah dua hari berturut-turut mencatat aliran masuk bersih (net inflow) pada 9 dan 10 Februari, tren itu berbalik pada 11 Februari dengan aliran keluar bersih (net outflow) harian sebesar USD 276,30 juta. Perubahan drastis ini semakin mempertegas sikap defensif dan kehati-hatian yang melanda pasar.

Proyeksi Teknis Menuju Akhir Pekan

Dari sisi analisis teknikal, pergerakan harga dalam jangka pendek diperkirakan masih terbatas. Bitcoin hari ini diproyeksikan bergerak dalam rentang konsolidasi antara USD 64.000 hingga USD 68.000. Sementara itu, Ethereum berpotensi diperdagangkan di kisaran USD 1.900 hingga USD 2.200.

Namun, proyeksi ini sangat bergantung pada satu katalis utama: hasil rilis data inflasi AS. Keputusan dan reaksi investor pasca-data dirilis akan menentukan apakah koreksi ini hanya jeda sesaat atau awal dari tren yang lebih dalam. Dalam situasi seperti ini, kehati-hatian dan pengelolaan risiko yang ketat menjadi kunci bagi para pelaku pasar.

Editor: Farah Ayu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar