Program Makan Bergizi Gratis 2026 Diperluas untuk Balita 6-59 Bulan

- Jumat, 13 Februari 2026 | 15:30 WIB
Program Makan Bergizi Gratis 2026 Diperluas untuk Balita 6-59 Bulan

GELORA.ME - Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) mulai memperluas cakupan penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada tahun 2026. Perluasan ini, yang mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 115 Tahun 2025, kini menyasar anak usia 6 hingga 59 bulan, menandai perkembangan signifikan dalam upaya penanganan gizi di fase kritis pertumbuhan anak.

Perluasan Sasaran ke Kelompok Usia Kritis

Ermia Sofiyessi, Sekretaris Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola BGN, menegaskan bahwa penambahan sasaran untuk balita tersebut telah resmi berlaku. Langkah ini diakui sebagai sebuah tantangan tersendiri mengingat sensitivitas usia tersebut.

"Kalau mengikuti Perpres 115 Tahun 2025 tahun 2026, anak 6-59 bulan itu menerima. Ini menjadi tantangan karena itu usia yang cukup kritis bagi anak-anak untuk menerima makanan," jelasnya pada Jumat (13/2/2026).

Pedoman dan Implementasi di Lapangan

Sebelum perluasan ini, BGN telah lebih dulu menyiapkan landasan operasional. Pedoman distribusi makanan dan edukasi gizi untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita telah diterbitkan sejak Mei 2025. Menurut Ermia, pedoman tersebut kini telah diimplementasikan secara menyeluruh di seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Ia menekankan pentingnya intervensi gizi pada masa 1.000 hari pertama kehidupan, yang mencakup kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B).

"Titik kritis pemberian MBG bagi kelompok 3B di 1.000 hari pertama kehidupan. Situasi yang krusial untuk menciptakan anak yang cerdas, sehat dan kuat sehingga bisa mendulang Indonesia Emas 2045," tuturnya.

Pencapaian dan Mekanisme Distribusi

Hingga Kamis (12/2/2026), data BGN mencatat capaian yang cukup luas. Penerima manfaat kelompok 3B telah menjangkau 1,8 juta anak PAUD, 4,6 juta balita non-PAUD, 727 ribu ibu hamil, dan 1,5 juta ibu menyusui. Distribusi hariannya berjalan dengan penjadwalan yang telah dikoordinasikan dengan posyandu dan kader setempat.

Fleksibilitas dalam penyaluran menjadi kunci. "Apakah kader perlu mengantar ke rumah atau diambil sendiri oleh ibu hamil atau ibu menyusui. Bisa juga menyesuaikan dengan jadwal posyandu," terang Ermia.

Untuk menjangkau wilayah terpencil, BGN juga telah merancang dan menguji coba skema distribusi khusus di sejumlah SPPG. Selain menyalurkan paket gizi, peran aktif kader dalam memberikan edukasi kepada para penerima manfaat dinilai sama pentingnya untuk memastikan keberlanjutan program.

Editor: Guntur Rahardjo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar