Populasi Ikan Dewa di Kuningan Kritis, Hanya Tersisa 200 Ekor

- Jumat, 13 Februari 2026 | 15:00 WIB
Populasi Ikan Dewa di Kuningan Kritis, Hanya Tersisa 200 Ekor

GELORA.ME - Populasi ikan dewa (Tor soro) di Kuningan terancam kritis menyusul kematian mendadak ratusan ekor. Saat ini, diperkirakan hanya tersisa sekitar 200 ekor. Upaya penyelamatan mendesak untuk dilakukan, dengan fokus utama pada identifikasi penyebab pasti, perbaikan kualitas air, dan peningkatan daya tahan tubuh ikan yang masih hidup.

Kualitas Air, Kunci Kerentanan Ikan

Ahli perikanan menekankan bahwa kehidupan ikan sangat bergantung pada kondisi perairannya. Perubahan sekecil apa pun pada parameter air dapat berdampak langsung pada kondisi fisiologis mereka. Organ insang, yang menjadi pintu gerbang interaksi dengan lingkungan, seringkali menjadi yang pertama terdampak.

Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Sri Nuryati, menjelaskan, "Ikan merupakan organisme akuatik yang sangat bergantung pada kondisi lingkungan perairan. Jadi, apa pun yang terjadi di air, itu akan sangat berpengaruh kepada kondisi fisiologis ikan."

Penurunan kadar oksigen, lonjakan bahan organik, dan fluktuasi suhu dapat melemahkan insang. Kondisi ini, lanjutnya, membuka peluang bagi berbagai patogen untuk menyerang.

Dugaan Awal dan Pentingnya Diagnosa Akurat

Meski ada dugaan kuat serangan parasit seperti cacing jangkar (Lernaea sp.), para ahli menegaskan bahwa penanganan tidak bisa didasarkan pada dugaan semata. Diagnosa laboratorium mutlak diperlukan untuk menemukan penyebab primer kematian massal ini.

Tanpa kejelasan ini, upaya pengobatan seperti pemberian garam atau obat-obatan seringkali sia-sia. "Biasanya bakteri menjadi penginfeksi sekunder, sementara penginfeksi primer kadang berasal dari parasit," ungkap Sri Nuryati.

Faktor Lingkungan yang Memicu Stres

Beberapa praktik budidaya yang kurang optimal turut memperburuk situasi. Kolam yang jarang dikuras menyebabkan penumpukan sisa pakan. Bahan organik ini kemudian terurai menjadi amonia, senyawa beracun yang tidak bisa ditoleransi ikan dalam konsentrasi tinggi.

"Amonia itu tidak baik, ikan tidak bisa mentoleransi ammonia pada konsentrasi tertentu. Itu bisa mengganggu dan akhirnya mati," paparnya.

Faktor lain seperti kepadatan tebar yang berlebihan juga memicu stres massal. Ditambah sifat ikan yang poikiloterm—suhu tubuhnya mengikuti lingkungan—perubahan cuaca ekstrem seperti hujan deras dapat menurunkan imunitas mereka secara drastis, membuatnya rentan sakit.

Langkah Penyelamatan dan Pencegahan Jangka Panjang

Untuk ikan yang masih bertahan, langkah segera yang disarankan adalah memindahkannya ke lingkungan perairan bersih dengan aerasi memadai. Namun, pemulihan populasi jangka panjang memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif.

Rekomendasi utama para ahli adalah perbaikan menyeluruh dalam manajemen kualitas air dan pemberian pakan bernutrisi tinggi yang diperkaya imunostimulan alami. Pendekatan ini bertujuan membangun ketahanan tubuh ikan dari dalam.

Menutup penjelasannya, Sri Nuryati menegaskan, "Harus ada manajemen kesehatan ikan. Airnya dikelola dengan baik dan imunitasnya ditingkatkan."

Keberhasilan menyelamatkan ikan dewa yang tersisa, dan mencegah kejadian serupa terulang, sangat bergantung pada kesigapan dan ketepatan langkah penanganan semua pihak terkait.

Editor: Guntur Rahardjo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar