Malaysia dan Thailand Unjuk Strategi Berbeda dalam Merebut Pasar Halal Global

- Rabu, 11 Februari 2026 | 16:00 WIB
Malaysia dan Thailand Unjuk Strategi Berbeda dalam Merebut Pasar Halal Global

GELORA.ME - Industri halal kini menjelma menjadi salah satu sektor ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Perkembangannya tidak lagi terbatas di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim, melainkan telah menarik minat global karena potensi pasarnya yang sangat besar. Untuk memenangi persaingan ini, penguatan ekosistem halal yang komprehensif menjadi kunci utama. Ekosistem tersebut mencakup lebih dari sekadar sertifikasi; ia meliputi standar mutu yang ketat, pengawasan rantai pasok yang transparan, dukungan regulasi yang jelas, inovasi teknologi, serta promosi perdagangan yang agresif. Negara-negara yang mampu menyinergikan semua elemen ini dipandang lebih siap untuk meraih manfaat dari nilai ekonomi halal yang terus melesat.

Malaysia: Contoh Sukses Ekosistem Terintegrasi

Dalam peta industri halal global, Malaysia sering dijadikan rujukan berkat pendekatannya yang terintegrasi. Kesuksesan negara ini dibangun dari kolaborasi erat antara pemerintah, otoritas sertifikasi, pelaku industri, dan lembaga riset. Pemerintah, melalui Departemen Pengembangan Islam Malaysia (JAKIM), berperan sentral dalam menyediakan kerangka sertifikasi yang kredibel dan diakui secara internasional. Kejelasan standar dan konsistensi dalam pengawasan telah menjadi fondasi yang membuat produk halal Malaysia dipercaya dan memiliki daya saing tinggi di pasar global.

Di luar aspek regulasi, Malaysia juga aktif menciptakan peluang bisnis. Mereka secara konsisten mempromosikan perdagangan melalui ajang bergengsi Malaysia International Halal Showcase (MIHAS). Pameran ini bukan sekadar event, melainkan sebuah platform strategis yang mempertemukan pelaku usaha dari berbagai belahan dunia untuk menjalin kemitraan dan memperluas jaringan distribusi.

“Forum tersebut memperkuat posisi Malaysia sebagai salah satu pusat perdagangan halal internasional,” ungkapnya.

Strategi Thailand: Mengandalkan Pendekatan Ilmiah

Sementara itu, Thailand menunjukkan pendekatan yang berbeda namun tak kalah efektif. Negeri Gajah Putih ini mengandalkan kekuatan sains untuk membangun kredibilitas produk halalnya. Hal ini diwujudkan melalui keberadaan Halal Science Center di Universitas Chulalongkorn, yang menjadi pionir dalam pendekatan berbasis laboratorium.

Pusat riset ini melakukan serangkaian pengujian dan analisis ilmiah yang ketat untuk memastikan setiap produk mematuhi standar halal. Pendekatan berbasis bukti ini dinilai tidak hanya meningkatkan akurasi sertifikasi, tetapi juga secara signifikan memperkuat kepercayaan konsumen, terutama di pasar internasional yang sangat sensitif terhadap isu kualitas dan keamanan.

Peran Teknologi dan Sinergi Global

Memasuki era digital, inovasi teknologi menjadi pilar tak terpisahkan dalam membangun ekosistem halal yang modern dan tangguh. Penerapan teknologi seperti blockchain dan kecerdasan buatan mulai banyak diadopsi untuk menciptakan transparansi dan sistem penelusuran (traceability) dari hulu ke hilir. Teknologi ini membantu menjamin integritas rantai pasok dan meminimalisir celah terjadinya pelanggaran standar.

Di tingkat global, kerja sama antarnegara juga semakin menguat melalui berbagai forum dan kesepakatan saling pengakuan (mutual recognition) sertifikasi. Kolaborasi semacam ini sangat vital untuk menyelaraskan standar, mempermudah arus perdagangan, dan membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk halal.

Pengalaman dari Malaysia dan Thailand memberikan pelajaran berharga. Keberhasilan dalam industri halal ditentukan oleh kombinasi strategis antara regulasi yang jelas, dukungan riset dan sains, promosi perdagangan yang aktif, serta adopsi teknologi yang cerdas. Strategi terpadu inilah yang dapat menjadi peta jalan bagi banyak negara yang beraspirasi untuk memperkuat posisinya di kancah industri halal global yang semakin kompetitif.

Editor: Gelora.me

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar