Mahfud MD Bongkar Borok Polri: Masuk Akpol Pakai Jatah, Mau Jadi Brigjen Mesti Bayar?
Praktik 'jalur orang dalam' hingga dugaan setor uang demi jabatan di Kepolisian Republik Indonesia (Polri) kembali menjadi sorotan tajam. Kali ini, suara keras datang dari Anggota Komisi Percepatan Reformasi Polri (KPRP), Mahfud MD.
Mahfud MD secara blak-blakan mengakui bahwa isu rekrutmen dan promosi menjadi salah satu borok yang tengah didalami secara serius oleh KPRP.
Rekrutmen dan Promosi Jadi Fokus Perbaikan
Berbicara di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM), Mahfud menegaskan masalah klasik ini menjadi fokus utama komisi dalam upaya membenahi institusi Bhayangkara. "Rekrutmen, promosi, rotasi, dan sebagainya itu menjadi bagian yang dibahas," ujarnya.
Ketidakadilan dalam Kenaikan Pangkat
Mahfud MD mencatat persoalan kronis berupa ketidakadilan dalam proses kenaikan pangkat. Fenomena yang terjadi adalah anggota yang berprestasi dan memenuhi syarat justru kariernya mandek.
"Kita mencatat ada orang yang pangkatnya 'enggak' naik-naik, ada orang yang belum memenuhi syarat tiba-tiba sudah naik pangkat," kata dia.
Dugaan Praktik Transaksional untuk Jabatan Brigjen
Lebih mengejutkan, Mahfud mengungkap adanya dugaan praktik transaksional di luar mekanisme resmi. Ia mencontohkan adanya 'biaya' yang harus dikeluarkan anggota untuk mengikuti pendidikan tertentu demi promosi jabatan strategis, seperti pangkat Brigadir Jenderal (Brigjen).
"Bahkan, orang ikut Sespim (Sekolah Staf dan Pimpinan Polri) agar dapat Brigjen, dan sebagainya itu bayar. Bayar ke siapa? Ya bayar ke temannya yang ngurus," ujar Mahfud.
Praktik ini sulit terdeteksi karena dilakukan di 'bawah tangan'. "Kalau ditanya di rekeningnya Polri, enggak ada, kan, tidak boleh bayar itu," lanjutnya.
Sistem Jatah Warnai Rekrutmen Akpol
Kritik juga ditujukan pada pintu masuk menjadi perwira polisi melalui Akademi Kepolisian (Akpol). Mahfud menyebut proses rekrutmen calon taruna kini diwarnai sistem penjatahan yang mengabaikan prinsip meritokrasi.
"Jadi rekrutmen mau masuk Akpol juga sekarang sudah pakai jatah-jatahan juga. Sehingga produk-produk beberapa tahun terakhir ini tidak selektif sebenarnya, tapi karena kedekatan hubungan, karena hubungan politik, dan sebagainya," beber dia.
Temuan Sedang Didalami untuk Cari Solusi
Berbagai temuan mengkhawatirkan ini tidak hanya menjadi catatan, tetapi sedang dalam proses pendalaman intensif oleh tim KPRP untuk dicarikan solusi permanen. "Itu semua menjadi bahan diskusi yang cukup mendalam, dan itu nanti akan diputus melalui masukan-masukan," pungkas Mahfud MD.
Artikel Terkait
Michael Carrick Akhiri Tugas Interim dengan Tiga Kemenangan Beruntun
MG S5 EV Resmi Diluncurkan di IIMS 2026, Harga Mulai Rp 357,9 Juta
Teori Konspirasi Epstein-Jackson Bergema Usai Rilis Dokumen Baru
Bhayangkara FC Resmi Rekrut Gelandang Jepang Sho Yamamoto