Jusuf Hamka juga menyinggung adanya teori Alibaba dimana satu perusahaan yang secara legalitas milik pribumi tapi sebetulnya dibelakang layar milik orang Tionghoa.
“Perusahaan pribumi akan diberikan prioritas, sehingga banyaklah yang minta izin kehutanan, konsesi kayu pribumi, namanya Ahmad atau Ali, didepan dirutnya tapi yang punya si Baba, jadi Alibaba” kata Jusuf Hamka.
Kondisi ini yang diharapkan pemerintah menjadi transfer knowledge bisnis Tionghoa ke pribumi tidak berjalan, karena orang pribumi sudah cukup puas jika mendapat keuntungan sekian persen, sementara orang Chinese tidak pernah merasa puas.
“Kebanyakan temen-temen kita (pribumi) begitu dia merasa sudah achieve pada targetnya misalnya oh target gue kepengen punya rumah, gue kepengen punya mobil terus gue kepengen punya tabungan, udah dia stop mulai bermalas malasan,” jelas pria kelahiran 5 Desember 1957 ini.
Orang orang pribumi lupa bahwa kedepannya masih banyak kebutuhan yang harus dipenuhi misal biaya sekolah makin tinggi atau dana darurat yang diperlukan.
“Sedangkan si Tionghoa-tionghoa ini selalu diajarkan pola hidup hemat dan uber-uber cuan terus karena mempersiapkan diri kalo keadaan susah,” ucap Jusuf Hamka.
Pola pikir orang Tionghoa juga mengajarkan tidak boleh lebih miskin dari anaknya.
“Pola pikir yang berbeda, dia (pribumi) ingin menggantungkan hidupnya kepada anaknya kalau orang Tionghoa dia prinsipnya dia gak mau menggantungkan hidup dari anak,” jelas Jusuf Hamka dikutip Hops.ID dari akun TikTok @wishastore pada hari Minggu, 4 Juni 2023.***
Sumber: hops
Artikel Terkait
Alasan Ahok Mundur dari Pertamina: Beda Pandangan Politik dengan Jokowi Terungkap di Sidang
Eskalasi Iran-AS 2024: Jenderal AS Tiba di Israel, Iran Siap Serang Duluan
Eggi Sudjana Laporkan Roy Suryo ke Polisi: Babak Baru Kasus Ijazah Jokowi
Aturan Baru BGN: Larangan Bawa Pulang Makanan MBG, Ini Tujuan & Dampaknya