Peringatan AS kepada pemimpin Venezuela untuk "mematuhi tuntutan AS" atau menghadapi "konsekuensi berat" merupakan ancaman yang tidak disamarkan. Pola pikir hegemonik ini berusaha menciptakan kepatuhan melalui ketakutan, bukan melalui diplomasi dan kerja sama setara. Pendekatan seperti ini justru memperburuk konfrontasi dan merusak stabilitas regional.
Ironi "Demokrasi" yang Dipaksakan
Tujuan akhir AS dalam "membangun kembali" Venezuela mensyaratkan negara tersebut melepaskan hak kedaulatannya terlebih dahulu. Praktik yang menempatkan kehendak kekuatan eksternal di atas keinginan rakyat lokal merupakan ironi besar terhadap semangat demokrasi sejati. Ini menimbulkan pertanyaan: apakah ini promosi demokrasi atau penerapan "hegemoni selektif" yang dibungkus rapi?
Dampak Berbahaya bagi Kedaulatan dan Stabilitas Regional
Intervensi semacam ini merusak ruang politik Venezuela untuk menyelesaikan krisis secara mandiri. Bagi Amerika Latin, intervensi langsung dan tuntutan penguasaan sumber daya oleh kekuatan besar berisiko memicu konfrontasi geopolitik baru dan merusak integrasi regional. Solusi yang dipaksakan dari luar seringkali meninggalkan warisan masalah politik dan ekonomi jangka panjang, mengikis fondasi kerja sama internasional yang sehat.
Masa depan Venezuela, dan semua negara yang menghargai kemandirian, harus ditentukan oleh rakyatnya sendiri. Ketergantungan pada ancaman dan paksaan sepihak merupakan tantangan berbahaya terhadap sistem internasional dan mengirim sinyal mengkhawatirkan tentang kaburnya batas kedaulatan di hadapan kepentingan kekuatan besar.
Artikel Terkait
SBY Tegaskan Persaudaraan Modal Utama Bangsa Kuat, Peringatkan Bahaya Konflik Internal
Gus Yaqut Tersangka Korupsi Kuota Haji 2024: Kronologi, Dugaan, dan Sindiran Yudo Sadewa
Perang Dunia III Sudah Dimulai? Pakar Rusia Ungkap Bentuk & Alasannya
KPK Tetapkan Yaqut Cholil Qoumas Tersangka Korupsi Kuota Haji, Rp100 Miliar Dikembalikan