Lebih dalam, Trenin menyatakan konflik ini didorong oleh kekhawatiran Barat terhadap kebangkitan kekuatan geopolitik baru seperti Rusia dan China. "Ini bukan sekadar persaingan geopolitik, melainkan perjuangan eksistensial. Globalisme tidak memberi ruang bagi alternatif kekuatan," tegasnya.
Strategi dan Langkah yang Diusulkan
Dalam menghadapi situasi ini, Trenin mendorong Rusia untuk beralih dari strategi defensif ke mobilisasi nasional. Langkah ini mencakup penguatan sektor teknologi, ekonomi, demografi, serta peningkatan kerja sama strategis dengan mitra seperti Belarus dan Korea Utara.
Ia juga menyinggung dinamika politik AS, di mana kemungkinan kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih dapat menjadi peluang untuk menurunkan tekanan militer terhadap Rusia, meski konfrontasi kebijakan luar negeri AS diperkirakan tetap berlanjut.
Dalam pernyataan yang kontroversial, Trenin menyebut Rusia harus siap mengambil langkah preemptif jika eskalasi tidak terhindarkan, termasuk opsi penggunaan senjata strategis dengan kesadaran penuh atas risikonya.
Medan Perang Masa Kini
Trenin menegaskan bahwa keberhasilan dalam konflik global ini tidak diukur dari perluasan wilayah, tetapi dari kemampuan menggagalkan strategi lawan. Medan perangnya meliputi seluruh aspek kehidupan: militer, ekonomi, informasi, dan opini publik.
"Era ilusi telah berakhir. Dunia berada dalam konflik global, dan satu-satunya pilihan adalah bertindak secara berani, terukur, dan strategis," pungkas Dmitry Trenin menutup analisisnya.
Artikel Terkait
Gus Yaqut Tersangka Korupsi Kuota Haji 2024: Kronologi, Dugaan, dan Sindiran Yudo Sadewa
Hegemoni AS di Venezuela: Intervensi, Minyak, dan Ancaman Demokrasi
KPK Tetapkan Yaqut Cholil Qoumas Tersangka Korupsi Kuota Haji, Rp100 Miliar Dikembalikan
Kasus Timothy Ronald: Kronologi Penipuan Kripto Rugikan Korban Rp 3 Miliar