Fregat disebutkan berlayar di Laut Merah tanpa adanya pelindung anti-drone.
Dikatakan bahwa drone musuh yang terus-menerus terbang di atas Fregat dan tidak mampu di hadapi oleh meriam Phalanx yang sudah using.
Para awak juga menggunakan senjata mereka untuk menembak jatuh drone dan mengatakan jika mereka seperti sedang berburu di tengah lautan ‘hitam’.
Bahkan menurut salah satu pengakuan, mereka bahkan telah mencapai titik, di mana menganggap bintang adalah drone Houthi.
Disebutkan bahwa salah satu drone Houthi berhasil meledak disamping kapal dan menyebabkan guncangan yang besar.
Atas kejadian tersebut, sepuluh awak kapal meminta agar mereka segera dipulangkan dan kemudian Fregat tersebut berlayar ke pelabuhan Djibouti.
Akibat permintaan dari awak kapal, akhirnya Fregat pada 10 Juni memutuskan pulang ke pangkalan dan lebih cepat dari jadwal yang seharusnya pada akhir Juli.
Sumber: disway
Artikel Terkait
SBY Tegaskan Persaudaraan Modal Utama Bangsa Kuat, Peringatkan Bahaya Konflik Internal
Gus Yaqut Tersangka Korupsi Kuota Haji 2024: Kronologi, Dugaan, dan Sindiran Yudo Sadewa
Hegemoni AS di Venezuela: Intervensi, Minyak, dan Ancaman Demokrasi
Perang Dunia III Sudah Dimulai? Pakar Rusia Ungkap Bentuk & Alasannya