“Terowongan tersebut dibangun oleh para insinyur terlatih dan terdidik yang mempertimbangkan semua kemungkinan serangan dari pihak pendudukan, termasuk pemompaan air,” kata Hamdan.
Hamdanmenambahkan, jaringan bawah tanah adalah bagian integral dari perjuangan milisi perlawanan Palestina.
"Dan semua konsekuensi serta serangan yang diperkirakan akan terjadi telah terjadi. telah diperhitungkan," kata dia.
Saat awal perang, pada Oktober, para pejabat Israel mengatakan kalau tentara IDF dalam keadaan apa pun tidak boleh mencoba memasuki terowongan.
Masih Jauh dari Sukses
Laporan The Times of Israel ini muncul ketika Israel masih jauh dari kesuksesan untuk menghancurkan Hamas.
“Israel masih jauh dari menggulingkan Hamas. Mayoritas pejuangnya masih hidup; mereka masih memiliki roket,” kata Michael Millstein, pakar studi Palestina, pada 12 Desember.
Pertempuran terus terjadi antara Israel dan kelompok perlawanan Palestina di Gaza utara dan selatan, dan pejuang perlawanan menyergap pasukan Israel setiap hari.
Setidaknya 10 tentara Israel tewas di lingkungan Shujaiya di utara Gaza dan di tempat lain pada 12 Desember dalam penyergapan terkoordinasi yang dilakukan oleh Hamas dan kelompok lainnya.
Media Israel menyebut penyergapan tersebut sebagai “salah satu yang paling mematikan” sejak perang darat dilancarkan pada akhir Oktober.
Sumber: tribunnews
Artikel Terkait
Anggaran Rp51 Triliun Rehabilitasi Bencana Sumatera: Realistis atau Potensi Korupsi?
Viral Gimah Minta Semeru Dipindah: Kisah Trauma di Balik Celoteh Lucu Warga Lumajang
Roy Suryo Cs Tagih Dasar Hukum Surat Penyetaraan Ijazah Gibran ke Kemendikdasmen
Timothy Ronald Dilaporkan Polisi: Modus Penipuan Sinyal Trading Kripto Manta Rugikan Korban Miliaran