Pergeseran Paradigma Kepemimpinan yang Dinantikan
Lebih lanjut, Hensat menyarankan agar kepemimpinan mulai bergeser dari sekadar mendeskripsikan kondisi bangsa ke arah langkah nyata menggerakkan perubahan. Hal ini terutama crucial dalam menangani isu ekonomi rumah tangga dan gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang masih terjadi.
Apresiasi untuk Fokus Penanganan Bencana
Di sisi lain, Hensat mengapresiasi penekanan presiden pada upaya rekonstruksi dan rehabilitasi pascabencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Menurutnya, penyampaian ini baik dan mampu menenangkan publik yang menantikan langkah konkret pemerintah.
Dinamika dan Guyonan Internal Kabinet
Hensat juga menyoroti penggunaan kata "solid" yang kerap diucapkan presiden dalam retret ini. Ia menanggapi guyonan presiden tentang pengawasan terhadap partai koalisi tertentu sebagai hal yang wajar.
"Itu guyonan yang wajar. Soal loyalitas, kabinet Prabowo masih di tahun awal. Saya rasa belum ada yang berani 'mbalelo'. Justru guyonan seperti itu memperkuat konsolidasi internal kabinet," jelas Founder Lembaga Survei Kedai Kopi tersebut.
Secara keseluruhan, retret kedua ini dinilai sebagai bagian dari strategi konsolidasi dan persiapan pemerintah menghadapi tahun 2026 yang penuh tantangan.
Artikel Terkait
6 Versi Ijazah Jokowi Menurut Dokter Tifa: Analisis Emboss & Watermark dari Polda Metro Jaya
Eggi Sudjana & Damai Hari Lubis Temui Jokowi di Solo, Roy Suryo Sindir Ada yang Cair
Pandji Pragiwaksono Dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Diduga Pencemaran Nama Baik NU & Muhammadiyah
PKS di Pilkada DPRD: Pilih Kekuasaan Sekarang atau Modal Suara 2029?