- Tahun 2024: 8,3 juta ton
- Tahun 2025 (proyeksi): ±5 juta ton (didukung program biodiesel)
- Januari–Oktober 2025: 4,01 juta ton
- Tahun 2026: TARGET NOL IMPOR
Perubahan ini akan mengubah peta energi regional, di mana negara-negara pengekspor seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand akan kehilangan pasar utama.
Dampak Nyata Bagi Masyarakat dan Perekonomian
Dengan tercapainya kemandirian solar, beberapa masalah klasik diharapkan dapat teratasi:
- Akhir Antrean Panjang: Truk tidak lagi perlu mengantre semalaman di SPBU.
- Stabilitas Harga dan Pasokan: Petani dan nelayan tidak perlu khawatir akan kelangkaan solar saat musim tanam atau melaut.
- Kedaulatan Energi: Solar berubah dari komoditas impor menjadi simbol kemandirian bangsa.
Keberhasilan ini juga didukung penuh oleh program Biodiesel B40 yang menggunakan bahan baku sawit dalam negeri, semakin memperkuat ketahanan energi dan mendukung petani lokal.
Langkah Selanjutnya: Menuju Stop Impor Bensin 2029
Stop impor solar adalah babak pertama. Pemerintah telah menargetkan langkah lebih besar, yaitu menghentikan impor bensin pada tahun 2029. Jika tercapai, potensi penghematan devisa bisa mencapai Rp250 triliun per tahun.
Kesimpulan
Kebijakan stop impor solar 2026 adalah terobosan nyata menuju kedaulatan energi Indonesia. Dengan dukungan infrastruktur kilang RDMP Balikpapan dan program biodiesel, ketergantungan pada pasar internasional dapat diputus. Kebijakan ini bukan hanya tentang penghematan devisa, tetapi juga tentang menjamin stabilitas pasokan energi dalam negeri, mengakhiri antrean, dan membangun fondasi ekonomi yang lebih mandiri dan berdaulat.
(Ketua Satupena Kalbar)
Artikel Terkait
Eggi Sudjana Sebut Pertemuan Jokowi Ibarat Musa dan Firaun: Analisis Polemik & Peluang Restorative Justice
Demo Ojek Online di Monas 2026: 1.541 Personel Gabungan Dikerahkan untuk Pengamanan
Pria Tertua Arab Saudi Meninggal di Usia 142 Tahun, Miliki 134 Keturunan
Partai Buruh & KSPI Tolak Penghapusan Pilkada Langsung: Ancaman bagi Upah Buruh dan Demokrasi