Eggi Sudjana dan Fenomena Pengkhianatan Politik dalam Sejarah Bangsa
Oleh: Sri Radjasa MBA (Pemerhati Intelejen)
Dalam setiap proses produksi industri, selalu ada dua hasil yang tak terpisahkan. Di satu sisi, lahir produk bernilai ekonomi. Di sisi lain, muncul residu limbah yang tak berguna dan kerap membahayakan. Logika yang sama dapat ditemukan dalam dinamika sosial politik sebuah bangsa.
Interaksi sosial-politik bekerja layaknya seleksi alam. Dari proses panjang itu, lahir individu berdaya guna bagi peradaban. Namun, juga menyisakan produk gagal yang hidup dari sisa kekuasaan, tanpa kontribusi, bahkan menjadi racun bagi kehidupan bersama.
Negara maju mendaur ulang produk gagal agar tidak mencemari tatanan. Namun dalam sejarah Indonesia, persoalan ini lebih kompleks. Sejak masa perjuangan kemerdekaan, bangsa ini kerap dihadapkan pada figur yang dapat disebut sebagai limbah peradaban.
Mereka hidup dari mengais remah kekuasaan, bersembunyi di balik simbol kesalehan dan keteladanan. Padahal, di balik topeng itu, mereka berperan sebagai kuda Troya yang membuka pintu dari dalam untuk kepentingan asing dan kekuasaan yang menindas bangsanya sendiri.
Fenomena Pengkhianatan Politik Kembali Berulang
Hari ini, ketika Indonesia menghadapi kepemimpinan yang dinilai otoriter, fenomena itu berulang. Di saat rakyat berupaya menata ulang nilai kebangsaan, muncul sosok pejuang matre yang menjual harga diri demi keuntungan duniawi sementara.
Artikel Terkait
Latihan Militer China, Rusia, Iran di Afrika Selatan: Tujuan, Dampak & Analisis Geopolitik 2026
Target Nol Keracunan MBG 2026 BGN: Kontroversi Garansi Allah & Analisis Lengkap
Donald Trump Tolak Hukum Internasional: Hanya Ikuti Moralitas Pribadi dan Ambisi Greenland
Profil Eny Retno, Istri Gus Yaqut: Setia 21 Tahun, Latar Belakang & Fakta Lengkap