Dalam konteks inilah, peristiwa Eggi Sudjana yang bertekuk lutut di hadapan Presiden Joko Widodo menjadi sorotan. Bagi yang mengikuti rekam jejaknya, peristiwa ini bukan kejutan. Pengkhianatan yang ditampilkan bukan sekadar akibat tekanan situasi, melainkan cerminan karakter. Ini adalah betrayal personality atau pengkhianatan yang berakar dari watak, bukan keadaan.
Cacat Nasionalisme dan Akidah dalam Pengkhianatan Politik
Sikap Eggi Sudjana dipandang sebagai bentuk cacat nasionalisme. Bahkan, dari sudut pandang keagamaan, dapat dikategorikan sebagai cacat akidah. Sejarah mencatat pengkhianatan semacam ini bukan hal baru.
Fenomena ini sejajar dengan kisah kaum munafik dalam sejarah Islam, seperti Abdullah bin Ubay yang membelot pada Perang Uhud, pengkhianatan Bani Nadhir dan Bani Quraizhah dalam Perang Khandaq, hingga pengkhianatan personal seperti Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarh dan Hatib bin Balta’ah yang mengorbankan kepentingan umat demi kepentingan pribadi.
Pelajaran Penting dari Kasus Pengkhianatan Politik
Dari kasus Eggi Sudjana, bangsa Indonesia harus menarik pelajaran penting: perjuangan tanpa iman dan kesetiaan hanya akan melahirkan pengkhianatan. Sejarah dan agama sama-sama mengajarkan bahwa janji Tuhan adalah kepastian.
Siapa pun yang tetap berjalan di jalan yang diridai-Nya, dengan kesetiaan dan kejujuran, niscaya akan memperoleh keselamatan bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.
Artikel Terkait
AS Desak Warga AS Segera Tinggalkan Venezuela: Peringatan Level 4 & Ancaman Colectivos
Anak Tega Bunuh Ayah Kandung di Bulukumba Gegara Janji Motor Tak Ditepati: Kronologi & Motif
Gempa M 7.1 Guncang Talaud Sulut: Lokasi, Dampak, dan Imbauan BNPB Terbaru
KPK Tetapkan 5 Tersangka Korupsi Pajak Rp75 Miliar, Termasuk Kepala KPP Jakarta Utara