Eggi Sudjana dan Fenomena Pengkhianatan Politik dalam Sejarah Bangsa
Oleh: Sri Radjasa MBA (Pemerhati Intelejen)
Dalam setiap proses produksi industri, selalu ada dua hasil yang tak terpisahkan. Di satu sisi, lahir produk bernilai ekonomi. Di sisi lain, muncul residu limbah yang tak berguna dan kerap membahayakan. Logika yang sama dapat ditemukan dalam dinamika sosial politik sebuah bangsa.
Interaksi sosial-politik bekerja layaknya seleksi alam. Dari proses panjang itu, lahir individu berdaya guna bagi peradaban. Namun, juga menyisakan produk gagal yang hidup dari sisa kekuasaan, tanpa kontribusi, bahkan menjadi racun bagi kehidupan bersama.
Negara maju mendaur ulang produk gagal agar tidak mencemari tatanan. Namun dalam sejarah Indonesia, persoalan ini lebih kompleks. Sejak masa perjuangan kemerdekaan, bangsa ini kerap dihadapkan pada figur yang dapat disebut sebagai limbah peradaban.
Mereka hidup dari mengais remah kekuasaan, bersembunyi di balik simbol kesalehan dan keteladanan. Padahal, di balik topeng itu, mereka berperan sebagai kuda Troya yang membuka pintu dari dalam untuk kepentingan asing dan kekuasaan yang menindas bangsanya sendiri.
Fenomena Pengkhianatan Politik Kembali Berulang
Hari ini, ketika Indonesia menghadapi kepemimpinan yang dinilai otoriter, fenomena itu berulang. Di saat rakyat berupaya menata ulang nilai kebangsaan, muncul sosok pejuang matre yang menjual harga diri demi keuntungan duniawi sementara.
Artikel Terkait
AS Desak Warga AS Segera Tinggalkan Venezuela: Peringatan Level 4 & Ancaman Colectivos
Anak Tega Bunuh Ayah Kandung di Bulukumba Gegara Janji Motor Tak Ditepati: Kronologi & Motif
Gempa M 7.1 Guncang Talaud Sulut: Lokasi, Dampak, dan Imbauan BNPB Terbaru
KPK Tetapkan 5 Tersangka Korupsi Pajak Rp75 Miliar, Termasuk Kepala KPP Jakarta Utara