Manohara berargumen bahwa penggunaan istilah 'mantan istri' menyiratkan adanya hubungan dan pernikahan yang sah, sukarela, dan dijalani oleh orang dewasa. Padahal, kenyataannya sangat berbeda.
"Ini membingkai ulang situasi paksaan sebagai hubungan yang sah dan mendistorsi realitas dari apa yang terjadi," ungkapnya. Ia menegaskan bahwa label tersebut sama sekali tidak mencerminkan pengalaman yang sebenarnya ia alami.
Permintaan untuk Media dan Platform Digital
Dalam surat terbukanya, Manohara secara khusus meminta kepada berbagai pihak, termasuk media massa dan platform digital, untuk menghentikan penggunaan label yang keliru tersebut.
"Saya meminta kepada media Indonesia, editor, penulis, maupun platform digital (termasuk Google dan Wikipedia) untuk berhenti menggunakan label ini ketika merujuk kepada saya," tulisnya. "Terus menerbitkan artikel dengan penggambaran yang salah ini bukan hanya tidak akurat, tapi juga merupakan jurnalisme yang tidak etis."
Pentingnya Bahasa yang Akurat dan Beretika
Manohara menekankan bahwa permintaannya ini bukan sekadar tentang masa lalu, melainkan tentang keakuratan fakta, etika jurnalistik, dan penggunaan bahasa yang bertanggung jawab.
"Penggunaan bahasa yang hati-hati itu penting, karena kata-kata memiliki konsekuensi. Para penyintas berhak agar kisah mereka diceritakan dengan jujur dan bermartabat," pungkas Manohara Odelia, menutup surat terbukanya yang penuh makna.
Artikel Terkait
Gugatan Citizen Lawsuit Ijazah Jokowi di PN Solo: Alasan Hukum Penolakan hingga Jadwal Sidang
AS Tarik Diri dari 66 Organisasi Internasional: Dampak & Kekhawatiran Indonesia
Panduan Lengkap Pengiriman Barang dari China ke UAE via Laut: Dokumen & Bea Cukai
Iran Siaga Tempur Tertinggi: Ancaman ke Israel & Peringatan Trump, Analisis Lengkap