Gaya politik Ahmad Ali ini bukan hal baru. Saat masih di NasDem, ia juga dikenal kontroversial. Namun, hasilnya belum membuahkan kesuksesan elektoral: gagal terpilih sebagai Gubernur Sulawesi Tengah, tidak kembali menjadi anggota DPR, dan kalah dalam Pilpres bersama Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar.
Pertanyaan besar muncul: mengapa Jokowi memilih Ahmad Ali untuk membimbing Kaesang Pangarep di PSI dengan gaya politik yang berbeda jauh dengan citra Jokowi sendiri? Apakah ini strategi baru Jokowi untuk menghadapi berbagai tekanan politik dengan cara yang lebih ofensif?
Tantangan Menuju Pemilu 2029
Ahmad Ali sudah menyatakan niatnya untuk "menghabisi" semua partai yang menghalangi PSI menang Pemilu 2029. Namun, pernyataan ini dianggap aneh mengingat semua partai pasti akan bersaing untuk menang. Fakta menunjukkan PSI belum lolos ambang batas parlemen meski mengusung nama Jokowi sebagai simbol.
Pertanyaan tentang efektivitas strategi Ahmad Ali masih terbuka. Apakah gaya konfrontatif ini akan membawa PSI menuju kesuksesan elektoral, atau justru mengulangi kegagalan-kegagalan sebelumnya? Jawabannya akan terungkap dalam perkembangan politik Indonesia ke depan.
Erizal
Direktur ABC Riset & Consulting
Artikel Terkait
Anggaran Rp51 Triliun Rehabilitasi Bencana Sumatera: Realistis atau Potensi Korupsi?
Viral Gimah Minta Semeru Dipindah: Kisah Trauma di Balik Celoteh Lucu Warga Lumajang
Roy Suryo Cs Tagih Dasar Hukum Surat Penyetaraan Ijazah Gibran ke Kemendikdasmen
Timothy Ronald Dilaporkan Polisi: Modus Penipuan Sinyal Trading Kripto Manta Rugikan Korban Miliaran